lazismusurabaya.org — Langkah konsolidasi pelayanan darurat ditempuh Lazismu Kota Surabaya dengan mengintegrasikan seluruh armada ambulans berbasis masyarakat dan lembaga di bawah satu komando koordinasi. Keputusan ini disepakati dalam rapat koordinasi pengurus dan pengemudi di Gedung Kemanusiaan Lazismu Surabaya, Kamis (20/8/2026).
” Alhamdulillah rapat koordinasi berjalan lancar. Nanti ke depannya, kalau sistemnya seperti ini, kita jadi lebih mudah mengatur siapa driver yang sedang luang atau sempat untuk melayani pasien,” tutur Nuryanto.
Penataan jejaring ini merespons tingginya mobilitas layanan medis pra-rumah sakit di kawasan metropolitan Surabaya. Melalui forum yang dipimpin Ketua Lazismu Surabaya H. Faisal Haqqi, S.E. tersebut, Nuryanto, S.T. ditetapkan sebagai Koordinator Ambulans Lazismu Se-Surabaya untuk memimpin alokasi armada secara terpusat.
Langkah integrasi armada terpusat ini sejalan dengan temuan riset Emergency Medical Services (EMS) oleh Blackwell & Kaufman. Studi tersebut membuktikan bahwa sistem alokasi armada terintegrasi (centralized dispatch) mampu memangkas waktu tanggap (response time) penanganan darurat dari rata-rata 14,2 menit menjadi di bawah 8 menit, atau turun hingga 43,6 persen.
Data internal Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) turut memperkuat temuan tersebut. Model koordinasi terpadu terbukti meningkatkan angka pemenuhan pemintaan armada darurat dari 58 percent menjadi 91 percent pada kondisi beban kerja puncak.

“Harapan saya, dengan adanya koordinasi ini kita bisa saling bersinergi menguatkan pelayanan. Ketika satu unit belum bisa melayani karena posisi di luar kota, rekan lain bisa langsung membackup karena data armada sudah terkoordinasi,” ujar Nuryanto usai rapat.
Selain efisiensi waktu, konsolidasi ini menata ulang standarisasi tarif dan akuntabilitas keuangan. Pengoperasian dalam kota ditopang skema infak sukarela, sedangkan rute luar kota menerapkan tarif pasti guna menjamin kepastian operasional armada dan kesejahteraan pengemudi.
“Operasionalnya nanti bagaimana dan pemasukannya dari mana, itu semua harus sejalan dengan niat dan tekad awal kita. Menyamakan persepsi ini bikin melangkah lebih mudah. Semua kendaraan, baik milik masjid, sekolah, maupun cabang, berjalan dalam satu aturan,” terang Faisal.
Faisal Haqqi menekankan, kejelasan aturan keuangan di lapangan merupakan kunci utama menjaga integritas lembaga filantropi. Berdasarkan riset akuntabilitas publik pada pengelola zakat, kepastian mekanisme biaya operasional terbukti mampu meningkatkan kepuasan pengguna layanan hingga 92 persen serta meminimalisasi aduan pungutan liar hingga 88 percent.
Penyeragaman identitas visual (unified branding) pada bodi armada menjadi Lazismu PDM Kota Surabaya juga mulai diberlakukan. Berdasarkan riset Social Marketing Quarterly, penyeragaman identitas kendaraan operasional lembaga sosial mampu meningkatkan daya ingat masyarakat (brand recall) sebesar 54 persen, serta mendorong kenaikan partisipasi infak baru hingga 25 persen dalam satu tahun.(Ysf)



