lazismusurabaya.org — Di tengah maraknya tantangan sosial kemasyarakatan seperti fenomena LGBT yang kian menggejala di Surabaya, lembaga amil zakat tidak lagi sekadar berperan sebagai penyalur bantuan materi. Lebih dari itu, transformasi peran menjadi motor edukasi publik dan pembentuk karakter generasi muda kini menjadi agenda krusial yang mendesak.
Langkah strategis inilah yang tengah digalang oleh Lazismu Kota Surabaya. Melalui sinergi lintas sektor, lembaga filantropi ini berkomitmen memperluas ruang syiar yang menyasar langsung pada akar rumput, guna membentengi moral masyarakat dari dampak negatif globalisasi.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam peluncuran program edukasi kreatif Podcast “Wuni Muni”, sebuah ruang diskusi interaktif hasil kolaborasi Lazismu Surabaya dengan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Surabaya. Diskusi yang berlangsung di Lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah (PUSDAM) Kota Surabaya, Jalan Wuni, Genteng, Kamis (12/6/2026) malam tersebut, sengaja membedah langkah preventif menghadapi fenomena LGBT langsung dari kacamata akademisi.

Kehadiran Lazismu dalam menginisiasi ruang-ruang dialog seperti ini dinilai sebagai respons konkret terhadap keresahan para orang tua di Surabaya. Selama ini, banyak pihak merasa kecolongan karena abai terhadap lingkungan pergaulan anak-anak mereka.
Melalui program kolaboratif ini, Lazismu Surabaya ingin mengetuk kesadaran publik bahwa benteng pertahanan pertama harus dibangun dari dalam rumah. Pola asuh yang peduli, mau tahu, dan tidak sekadar melihat anak “baik-baik saja” menjadi pondasi awal sebelum anak-anak dihadapkan pada realitas sosial yang kompleks.
Tidak hanya menyentuh sisi domestik, program bentukan Lazismu ini juga konsisten mengampanyekan pentingnya penguatan aspek spiritualitas dan ketahanan mental bagi kalangan remaja. Penanaman ilmu agama yang aplikatif—bukan sekadar pemahaman teologis di atas kertas—diposisikan sebagai jangkar moral utama agar generasi muda mampu membedakan hal yang hak dan batil di tengah ketatnya arus pergaulan.
Dalam jangka panjang, Lazismu Surabaya memproyeksikan program edukasi seperti Podcast “Wuni Muni” yang dipandu oleh Cak Alfi ini tidak berhenti sebagai tontonan alternatif belaka. Lembaga ini berupaya menjadikannya sebagai wadah rujukan yang mampu menggerakkan aksi nyata di masyarakat, termasuk mengedukasi para remaja agar lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan dan memperteguh prinsip hidup melalui pembiasaan ibadah yang menguatkan mental, salah satunya berpuasa.
Sinergi yang solid antara pengelolaan dana publik dan kepekaan terhadap isu sosial-psikologis ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda Surabaya yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, namun juga kokoh secara spiritual dan selamat dari lingkaran pergaulan yang menyimpang.(Ysf)



