lazismusurabaya.org – Dunia digital terus bergerak secepat kilat, dan disadari atau tidak, lembaga keagamaan harus mampu berlari mengejarnya. Hal ini diakui secara terbuka oleh Drs H Catur Anang Hutoyo MPd, saat hadir sebagai narasumber dalam Podcast Lazismu Kota Surabaya, Selasa (9/6/26). Beliau blak-blakan menyebut bahwa persyarikatan Muhammadiyah sempat mengalami keterlambatan dalam memanfaatkan media sosial sebagai cerobong dakwah utama.
Menurut Ki Catur, platform digital seperti Facebook sebenarnya sudah mulai ramai digunakan sejak tahun 2010-an oleh masyarakat luas, termasuk segelintir aktivis. Namun, bagi jajaran struktural organisasi di berbagai tingkatan pada masa itu, media sosial belum dilirik sebagai alat komunikasi massal.
“Jujur, kita terlambat. Itu fakta yang terjadi,” ungkap Ki Catur dengan nada evaluatif.
Momentum perubahan besar justru terjadi saat dunia dihantam pandemi COVID-19. Catur mengenang, sebelum pandemi, dirinya yang saat itu aktif di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pakal Surabaya, sebenarnya sudah menggagas program agar anak-anak muda “melek digitalisasi”. Sayangnya, rencana tersebut nyaris gagal total akibat pembatasan pandemi.
Namun di balik musibah, ada hikmah besar. Pandemi justru memaksa Muhammadiyah keluar dari zona nyaman. Dakwah yang selama ini identik dengan mimbar masjid dan pengajian konvensional, mau tidak mau harus bermigrasi ke layar kaca ponsel.
Bukan Lagi Soal Atribut, Tapi Isi
Menjawab tantangan zaman, Catur menekankan bahwa format dakwah digital hari ini harus adaptif. Generasi muda kini lebih menyukai konten yang pendek, padat, berisi, informatif, sekaligus menyenangkan. Konten yang terlalu panjang dan menjemukan mulai ditinggalkan oleh netizen yang cenderung praktis.
Uniknya, Ki Catur menyoroti bahwa dalam dakwah digital, atribut formal keagamaan tidak lagi menjadi penentu utama.
“Sekarang tidak perlu pakaian yang kelihatan islami banget. Pakai rompi, blangkon, atau topi koboi pun bisa diterima, asalkan materi dan isinya berbobot serta bisa diserap oleh netizen,” tambahnya.
Fenomena anak muda yang kini lebih gemar belajar agama lewat TikTok, Instagram, dan YouTube dipandangnya sebagai peluang emas sekaligus tantangan. Muhammadiyah kini mulai gencar memproduksi konten-konten ringan, seperti kutipan harian (quote of the day) dari ketua umum atau tokoh persyarikatan, untuk menyapa kaum muda di linimasa mereka.
Transformasi Lazismu: Dari Kotak Amal Keliling ke Sistem QRIS
Digitalisasi tidak hanya merombak gaya ceramah, melainkan juga budaya berdonasi. Catur mengamati bahwa sistem transfer dan penggunaan QRIS kini sudah menjadi kebutuhan mutlak di masyarakat. Mulai dari belanja makanan, membayar parkir, hingga urusan berinfak dan bersedekah, semuanya kini bergerak ke arah cashless (non-tunai).
Bagi lembaga filantropi seperti Lazismu, perubahan ini adalah berkah. Konsep jemput bola dengan menyebarkan brosur fisik atau mengedarkan kotak amal konvensional di perempatan jalan dinilai sudah lewat masanya. Masjid-masjid kini bahkan sudah banyak yang menyediakan kode QRIS di tiang-tiang atau layar digitalnya untuk mempermudah jamaah mentransfer zakat dan infak secara instan.
Namun, Ki Catur memberikan catatan penting: kemudahan wajib dibarengi dengan keamanan. Pihak otoritas keuangan dan lembaga terkait harus memastikan bahwa ekosistem digital ini aman dari kejahatan siber, sehingga masyarakat merasa nyaman dan tenang saat menyalurkan dana mereka.
Seimbang Antara “Bercerita” dan “Bekerja Real”
Ketika ditanya mengenai mana yang lebih penting antara “banyak bekerja” atau “banyak bercerita” di media sosial bagi lembaga sosial, Ki Catur menjawab dengan bijak bahwa keduanya harus berjalan beriringan.
Media sosial adalah panggung untuk menyampaikan laporan publik secara transparan—dari mana dana didapat, berapa jumlahnya, hingga disalurkan ke mana saja (seperti untuk pendidikan atau bantuan bencana). Ini adalah bagian dari akuntabilitas. Namun, tugas utama Lazismu adalah “bekerja nyata” untuk mengedukasi dan menyadarkan masyarakat akan kewajiban berbagi, lalu memfasilitasi kemudahan menyalurkannya lewat teknologi digital.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Lupakan Dakwah Konvensional
Meskipun mendukung penuh gerakan digitalisasi dan mengejar jumlah pengikut (followers) untuk memperluas jangkauan dakwah, Ki Catur mengingatkan anak muda Muhammadiyah agar tidak kehilangan esensi penting dalam beragama: silaturahmi tatap muka.
Secara filosofis, beliau berpesan bahwa mengaji secara konvensional dengan mendatangi langsung guru atau ulama yang berkompeten memiliki nilai ibadah yang tidak bisa digantikan oleh algoritma media sosial.
“Dengan berhadapan langsung, kita bisa melihat langsung akhlak guru kita, bagaimana kehidupan keluarganya, dan mencontoh perilakunya sebagai teladan. Silaturahmi langsung dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya itu nilai pahalanya berbeda dan tidak bisa dihitung dengan uang,” pungkas Ki Catur menutup sesi podcast. (Muha/Catur)



