lazismusurabaya.org – “Siapa pun yang diberi amanat memimpin, dia harus melihat rakyatnya dengan rasa cinta. Kebijakan publik itu tidak boleh kaku, harus ada moral dan hati di dalamnya. Ketika dunia sedang diuji oleh berbagai krisis, nilai mahabbah,rasa kasih saying, itulah yang akan menyelamatkan kita,” tutur Prof. Dr. Din Syamsuddin dengan nada bergetar penuh penekanan.
Kutipan mendalam dari sang tokoh bangsa itu seolah memotret realitas di sudut-sudut kampung Surabaya hari ini. Di saat harga pangan tak menentu dan beban hidup kian mencekik leher warga akibat imbas ekonomi global, kehadiran Lazismu Kota Surabaya ibarat oase di tengah gurun. Mereka tidak menunggu regulasi berbelit dari atas; para relawan kemanusiaan ini langsung turun ke gang-gang sempit, mengetuk pintu rumah warga miskin, membawa bantuan, dan mendengarkan keluh kesah mereka yang hampir kehilangan harapan.
Langkah humanis Lazismu ini menjadi benang merah yang menghidupkan suasana Dialog Khusus “Kepemimpinan Moral Dan Arah Kebijakan Publik Di Tengah Krisis Global”. Diskusi hangat yang diinisiasi oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya tersebut digelar di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah (PUSDAM), Jalan Wuni No. 9, Ketabang, Genteng, Surabaya, pada Kamis (18/6/2026) malam.
Dunia saat ini memang sedang mengalami luka akumulatif. Merujuk laporan World Economic Forum (WEF) Global Risks Report, badai polikrisis mulai dari perubahan iklim hingga inflasi ekstrem kini menghantam langsung ketahanan pangan keluarga-keluarga rentan. Di tingkat akar rumput, krisis bukan lagi sekadar angka statistik dalam jurnal ilmiah, melainkan jeritan seorang ibu yang kebingungan membeli beras atau tangisan anak yang terancam putus sekolah.
Ketua PDM Kota Surabaya, Dr. H.M. Ridhwan, M.Pd, bersama Ketua LHKP Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, memandang bahwa kerja-kerja filantropi seperti yang dilakukan Lazismu adalah wujud nyata dari Pancasila yang membumi. Agama dan moralitas tidak lagi sekadar menjadi bahan khotbah di podium, melainkan menjelma menjadi sepiring nasi dan modal usaha bagi mereka yang terpinggirkan oleh roda zaman.
Dalam forum yang dipandu secara dinamis oleh Isa Anshori tersebut, para peserta sepakat bahwa kepemimpinan moral harus dimulai dari kepedulian terhadap sesama. Lazismu Surabaya membuktikan hal itu dengan merangkul semua orang tanpa memandang latar belakang golongan, murni atas dasar cinta kemanusiaan universal.
Malam itu, Aula PUSDAM dipenuhi kehangatan. Kehadiran para pimpinan PDM, pengurus cabang, ortom, hingga para pejuang kemanusiaan Lazismu melahirkan sebuah optimisme baru. Melalui dialog ini, Surabaya kembali mengingatkan kita semua: di tengah karut-marut dunia yang kian egois, kepedulian yang tulus dan ketukan pintu rumah warga miskin oleh para relawan adalah bentuk kepemimpinan sejati yang paling dibutuhkan saat ini. (Hakim/Ysf)



