Sinar matahari hangat menyapa Ruang Rapat Lantai 2, Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Selasa (28/4/2026), saat sebuah momentum langka tercipta. Dialog Antar Agama bertajuk “Kitab Suci dan Amal Sosial: Teologi Pelayanan dalam Perspektif Lintas Iman” berlangsung khidmat, mempertemukan tokoh lintas iman untuk menjahit persaudaraan melalui diskusi tentang peran agama dalam kemanusiaan.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh berbagai tokoh, termasuk Sekretaris Lazismu Surabaya, Achmad Rosyidi, S.H.I., yang hadir sebagai representasi lembaga amil zakat dalam memperkuat kolaborasi sosial lintas iman. Kehadiran beliau menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan yang dijalankan Lazismu harus melampaui sekat-sekat primordial, menjadikan agama sebagai sumber etika sosial yang konkret bagi kaum lemah, bukan sekadar simbol teologis yang kaku.

Pentingnya langkah ini didukung oleh fakta empiris global. Riset dari lembaga pembangunan internasional seperti Bank Dunia menunjukkan bahwa di banyak negara berkembang, organisasi berbasis agama (FBOs) secara konsisten menyediakan 30% hingga 50% dari total layanan sosial dasar, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. Di Indonesia, efektivitas pengelolaan zakat yang profesional, seperti yang dipraktikkan Lazismu, terbukti memiliki daya ungkit signifikan dalam mendukung target penurunan angka kemiskinan nasional. Data menunjukkan bahwa integrasi bantuan berbasis data mampu meningkatkan efisiensi distribusi hingga 20% lebih baik dibandingkan metode tradisional, menjadikannya instrumen krusial dalam mempercepat tercapainya kesejahteraan yang merata.
Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Solihin Fanani, memberikan apresiasi mendalam atas keterlibatan elemen lembaga amil zakat tersebut. Menurutnya, semangat ta’awun (tolong-menolong) yang diusung Muhammadiyah adalah jembatan universal untuk merangkul siapa saja. Ia menekankan bahwa prinsip ta’awunu alal birri wat taqwa serta esensi khairunnas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi sesama) harus menjadi spirit utama gerakan kemanusiaan di lapangan agar terus tumbuh secara inklusif dan efektif.
Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini menjadi ruang perjumpaan produktif untuk membedah bagaimana tradisi masing-masing agama—Muhammadiyah dengan dakwah bilhal, PGI dengan diakonia, serta Gereja Katolik dengan ajaran caritas—bertemu pada satu titik: martabat manusia. Di akhir acara, wajah-wajah peserta tampak lebih rileks, memandang perbedaan sebagai lahan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana ditegaskan Solihin Fanani, dorongan untuk terus memberikan manfaat bagi sesama kini menjadi pekerjaan rumah bersama yang lebih ringan, karena telah dimulai dari meja dialog ini.(Ysf)



