Lazismusurabaya.org – Suasana di Masjid Jenderal Ahmad Yani, Simokerto, terasa begitu sejuk dan penuh kekeluargaan pada Ahad pagi (28/12/2025). Ratusan warga Muhammadiyah berkumpul bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan untuk menyerap ilmu dalam Kajian Pencerah Ahad Pagi sekaligus menjadi saksi tuntasnya amanah sosial bagi para penjaga napas dakwah di Kota Surabaya.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Risman Muchtar, M.Si., Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah, membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keutuhan umat. Mengangkat tema “Menegakkan Islam dan Menolak Perpecahan” yang bersumber dari tadabbur QS Asy-Syura ayat 13, beliau mengingatkan bahwa esensi dakwah adalah merangkul demi tegaknya agama.
“Intinya agar kita selaku warga Muhammadiyah selalu menegakkan Islam dan menolak perpecahan dari beberapa unsur yang ada di masyarakat,” tutur Dr. Risman dalam ceramahnya.
Momentum di penghujung tahun ini menjadi ajang laporan terbuka mengenai komitmen filantropi terhadap pilar dakwah. Perwakilan PDM Surabaya, Bpk. Drs. Hamri, M.Pd.I., dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi apik antara Majelis Tabligh dan Lazismu dalam mengawal dakwah baik secara rohani maupun materiil. Di lokasi kegiatan, Manajer Lazismu Surabaya, Moch As’ad, S.Sos., secara langsung menyerahkan kado cinta berupa bingkisan pangan bagi para marbot dan jemaah yang hadir.
Di sela-sela kegiatan, Ketua Lazismu Kota Surabaya, Faisal Haqqi, S.E., dalam pernyataan terpisahnya menekankan bahwa transparansi dan keberlanjutan adalah prioritas utama. Beliau memastikan bahwa dukungan bagi operasional dakwah telah tersalurkan secara maksimal sesuai target tahunan.
“Alhamdulillah, menutup tahun 2025 ini, penyaluran Bantuan Operasional Masjid (BOM) dan Bantuan Operasional TPQ (BOT) sudah mencapai hampir 100 persen,” ungkap Moch As’ad memperkuat komitmen tersebut.

Langkah Lazismu Surabaya ini didukung oleh fakta lapangan yang cukup menantang di wilayah perkotaan. Berdasarkan data Indonesia Zakat Outlook, dukungan biaya operasional merupakan kebutuhan mendesak bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an, di mana tercatat sekitar 45% TPQ di perkotaan seringkali mengalami kendala keberlanjutan akibat fluktuasi biaya operasional dan insentif pengajar yang tidak menentu.
Penyaluran bantuan operasional yang stabil hingga menyentuh angka 100% ini memiliki landasan riset yang kuat dalam meningkatkan kualitas dakwah:
• Stabilitas Kegiatan: Dukungan operasional terbukti mampu meningkatkan stabilitas kegiatan belajar mengajar hingga 30% karena pengelola dapat beralih fokus dari beban finansial teknis ke pengembangan materi ajar.
• Efektivitas Pengajar: Berdasarkan studi Impact Assessment filantropi Islam, kepastian insentif bagi guru mengaji secara signifikan menurunkan tingkat pergantian pengajar, sehingga konsistensi bimbingan terhadap santri tetap terjaga.
• Keberlanjutan Dakwah: Kepastian dana operasional memastikan fasilitas ibadah tetap layak digunakan, yang secara langsung menjaga tingkat kehadiran dan kenyamanan jemaah di masjid.
Menyongsong tahun 2026, Lazismu Surabaya berkomitmen untuk memperluas jangkauan manfaatnya. Pintu kerja sama akan dibuka lebih lebar bagi masjid dan TPQ yang belum terdaftar di Majelis Tabligh agar bisa merasakan dukungan operasional yang serupa demi kemaslahatan warga Kota Pahlawan.( Ysf )



