lazismusurabaya.org – Matahari baru saja naik sepenggalah di Desa Sunting, Kecamatan Bandar Pusaka, ketika deru mesin kendaraan tim Lazismu Surabaya memecah keheningan sisa bencana. Pagi itu, Kamis, 16 Januari 2026, bukan sekadar perjalanan medis biasa. Di balik jendela mobil, pemandangan memilukan membentang: rumah-rumah yang hancur diterjang banjir bandang sejak akhir November 2025 bersanding dengan deretan tenda pengungsian yang masih dihuni oleh ratusan warga. Berdasarkan data terbaru, terdapat 381 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak di Desa Serba dan Sunting, dengan total lebih dari 1.450 jiwa yang harus bertahan di tengah keterbatasan.
Langkah tim Lazismu Surabaya dan Tim Kesehatan Muhammadiyah Jawa Timur menyusuri gang-gang berlumpur terhenti saat mendapatkan informasi mengenai kondisi Ny. Sariyah. Di dalam sebuah tenda, ditemukan kondisi Ny. Sariyah yang sangat memprihatinkan akibat serangan stroke (Cerebro Vascular Accident) yang disertai luka dekubitus atau ulkus di bagian punggung. Daging di sekitar luka tersebut telah menghitam dan mengalami pembusukan. Meski keluarga sempat ragu untuk merujuk ke rumah sakit, kehadiran dr. Tomy Wijaya dari RS Siti Khodijah Sepanjang membawa angin segar; melalui edukasi yang menyentuh, keluarga akhirnya mengizinkan pembersihan jaringan nekrotik dilakukan secara optimal di lokasi.

Perjuangan ini tidak berhenti pada sekali tindakan. Dr. Tomy menegaskan komitmen tim untuk melakukan follow-up setiap hari selama 14 hari masa pelayanan di Aceh Tamiang guna memastikan kesembuhan total. Tak hanya Ny. Sariyah, pada hari itu saja, layanan kesehatan mobile telah menyentuh 92 jiwa penerima manfaat yang mulai mengeluhkan sakit flu, gatal-gatal (dermatomikosis), hingga radang tenggorokan pascabanjir. Di saat yang sama, tim logistik Lazismu Surabaya yang digawangi oleh Fathurrahim dan Yusuf Dwipo Wijoyo bergerak sigap mendistribusikan bahan pangan segar untuk 50 KK serta menyiapkan program “RendangMu” untuk memperkuat gizi para penyintas.
Misi kemanusiaan ini tetap berjalan tegak meski dihadapkan pada kendala medan yang berat, di mana jalanan masih tertutup lumpur material yang licin dan akses listrik yang belum stabil. Selain medis dan logistik, kekuatan filantropi Surabaya juga menyasar pada pemulihan fasilitas pendidikan, seperti pembersihan gedung SD Unggul Muhammadiyah yang rusak berat agar anak-anak bisa segera belajar kembali. Dukungan penuh dari para donatur melalui Lazismu Surabaya terbukti menjadi jembatan harapan, membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer bukanlah penghalang untuk menyembuhkan luka dan memulihkan martabat sesama manusia di ujung sumatera. (Ysf)



