Jum’ah Cerah: Gengsi itu Mahal dan Susah | Berita Populer Lazismu

Share :

Donasi Sekarang

Zakat Penghasilan

Lazismu Surabaya

Zakat penghasilan atau zakat usaha dikenakan pada penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari usaha, bisnis, atau profesi.

Gengsi itu Mahal dan Susah
Oleh: Drs H Nur Cholis Huda MSi

Ini cerita inspiratif tentang seorang wanita ketika akan mengakhiri jabatannya ditangisi rakyatnya. Selama 6 menit Rakyat berdiri di balkon rumah masing-masing. Bertepuk tangan sebagai penghormatan kepadanya. Anda sudah tahu. Wanita luar biasa itu adalah kanselir Jerman, Angela Dorothea Merkel. Dia mengakhiri jabatannya tahun 2021 kemarin.

Berkuasa hampir dua dekade Angela Merkel membawa Jerman pada kemajuan yang mengagumkan. Dia memimpin Jerman dengan penduduk 80 juta menjadikan negara dengan ekonomi yang menjulang tinggi. Pemimpin bagi negara-negara Eropa. Dia menjadi teladan tentang kompetensi, dedikasi, keterampilan, terutama tentang ketulusan. Selama 16 tahun berkuasa tidak ada catatan pelanggaran. Tidak memasukkan seorangpun familinya bekerja di pemerintahannya. Dengan rendah hati tidak merasa menjadi satu-satunya pelaku yang membawa kesuksesan Jerman.

Dia tidak muncul di lorong-lorong perkampungan untuk foto bersama sebagai promosi bahwa dia dekat dengan rakyat. Tahun kemarin dia menyerahkan kekuasaannya dengan Jerman dalam kondisi terbaik. Rakyat Jerman berterima kasih kepadanya sekaligus menangisi kepergiannya. Mereka merindukan kepemimpinan Merkel. Orang yang jauh dari Ambisi pribadi dan jauh dari hidup menjaga Gengsi.

Ahli fisika ini tinggal di apartemen yang sejak dulu ditinggali. Jauh sebelum menjadi perdana menteri. Tinggal di apartemen seperti milik rakyat kebanyakan. Dia memang yang memajukan ekonomi Jerman maju pesat. Tetapi dia tidak memiliki kendaraan mewah, kolam renang, Villa, Taman, apalagi kapal pesiar. Dia seperti tidak mengambil apa-apa dari kemajuan ekonomi yang dibangunnya. Bahkan pakaian yang dikenakan juga seperti itu itu saja.

Pada sebuah wawancara, seorang jurnalis wanita bertanya kepada Markel: ” Saya melihat anda berpakaian yang itu-itu terus. Tidakkah anda punya yang lain?”

Dengan tegas dia menjawab: “Saya pegawai pemerintah, bukan seorang model.”

Pada konferensi pers selain para jurnalis bertanya: “Apakah anda punya pembantu rumah tangga yang membersihkan rumah atau mencuci pakaian?”

Jawabnya: “Tidak! Saya tidak memiliki pekerja perempuan. Saya dan suami melakukan pekerjaan di rumah setiap hari.”

Wartawan lain bertanya: “Siapa yang mencuci baju anda dan baju suami Anda?”

Jawabnya: “Saya yang mengatur pakaian dan suami saya yang mengoperasikan mesin cuci dan biasanya malam hari karena listrik lebih banyak tersedia. Yang penting adalah memperhitungkan tidak mengganggu kenyamanan Tetangga.”

Itulah Angela Merkel. Ketulusannya yang totalitas. Pengabdiannya membuatnya tidak pernah menjaga gengsi. Tidak pernah harga dirinya terusi oleh hal-hal kecil seperti mobil yang dikendarai atau pakaian yang dikenakan.

Bandingkan dengan sebagian pejabat kita. Ada bupati yang setiap keluar rumah harus dikawal mobil bersirine. Dengan cara itu semua orang di jalan yang dia lewati tahu, dengan bunyi sirine tahu bahwa Pak Bupati sedang lewat. Ada istri yang suka beli tas sangat mahal, tidak mau kalah dengan tas istri pejabat lain, terutama dengan istri bawahan suaminya. Demikian juga persaingan sepatu dan tentu pakaian. Terutama pada acara tidak resmi seperti acara pernikahan dan ulang tahun. Persaingan itu sering tampak nyata. Terutama di antara para istri orang-orang penting.

Juga persaingan rumah dan mobil bagi para bapak. Bukan hanya bersaing bagusnya, tetapi juga jumlahnya. Garasi di rumah bisa berubah seperti show room mobil. Mengapa gengsi atau harga diri sebagian orang bergantung di benda-benda mati? Itu untuk menutupi kekurangan dirinya. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Untuk menaikkan harga diri. Dengan benda-benda itu dia merasa gengsinya naik. Bila mobilnya yang mahal itu tergores, maka rasanya seperti kulit tubuhnya yang tergores. Pedih!

Ada bupati yang mengundang artis terkenal agar namanya ikut terkenal karena di liput wartawan. Bagian protokol mengatur duduk Bupati di depan bagian tengah, sebagai lambang orang sentral di tempat itu. Di kiri dan kanannya didampingi pejabat lain. Sedangkan artis duduk di deretan depan tetapi agak di pinggir. Jauh dari kursi Bupati.

Aturan protokol tidak salah. Namun hal itu tidak berkenan di hati Pak Bupati. Dia ingin artis itu duduk berdampingan dengan dirinya. Dalam berita nanti agar ada foto dirinya juga. Tidak hanya foto artis. Petugas yang mengatur tempat duduk itu disalahkan. Dianggap tidak bisa menerjemahkan kemauan Bupati. Tentu petugas itu heran menyaksikan sikap bupatinya yang kekanak-kanakan ini. Iya. Ke kanak-kanakan. Namun apa boleh buat. Yang berkuasa itu Bupati, bukan dirinya.

Menjaga Gengsi. Salah satu sumber masalah. Hidup menjadi mahal karena menjaga Gengsi. Dia mengira dengan benda-benda itu maka kualitas pribadinya naik. Dikagumi banyak orang. Padahal yang terjadi sering sebaliknya. Orang yang berpikir waras justru menertawakan perilakunya itu. Sungguh malang orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada pandangan orang lain. Jika Semua usaha untuk dikagumi gagal diperoleh dia pasti sangat kecewa. Setiap orang memang perlu menjaga kehormatan dirinya. Tetapi kehormatan diri tentu tidak terletak pada benda-benda mati itu.

Angela Merkel memberi bukti bahwa kehormatan diri bukan karena pakaian yang dikenakan. Kendaraan yang dinaiki. Penghargaan yang menempel di baju. Semua itu hanya asesoris. Orang dihargai karena perilaku manusianya. Bukan karena embel-embelnya. Hidup dengan menjaga gengsi menjadi mahal. Hidup dengan apa adanya menjadi murah, mudah dan bahagia.

Berita Lainnya

lazismusurabaya.org – Di saat sebagian besar warga Kota Pahlawan masih terlelap, puluhan pemuda terlihat bahu-membahu mendorong sebuah mobil operasional yang mogok di...

lazismusurabaya.org – Langkah mulia untuk menghadirkan tempat ibadah yang nyaman di wilayah Surabaya Barat resmi dimulai. Pada Jumat (6/3/2026), prosesi peletakan batu...

lazismusurabaya.org – Di saat sebagian besar warga Kota Pahlawan masih terlelap dalam mimpi, semangat berbagi justru terpancar kuat di lorong-lorong Rumah Sakit...