Konsultasi Agama: Hukum Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib | Berita Populer Lazismu

Share :

Donasi Sekarang

Zakat Penghasilan

Lazismu Surabaya

Zakat penghasilan atau zakat usaha dikenakan pada penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari usaha, bisnis, atau profesi.

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh

Pak ustadz, adakah shalat sunnah  rawatib qabliyah magrib? Mohon penjelasan (Dari jama’ah masjid Al Qadar – Sambikerep – Surabaya)

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Penanya yang kami hormati, tentang keberadaan shalat sunnah Qabliyah maghrib, diperselisihkan para ulama sejak masa sahabat Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mengatakan tidak ada, sebagian mengatakan ada, bahkan bagus, namun tidak termasuk sunnah mu’akkadah.

Imam At Tirmdzi rahimahulloh menjelaskan:

وَقَدْ اخْتَلَفَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ فَلَمْ يَرَ بَعْضُهُمْ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ إِنْ صَلَّاهُمَا فَحَسَنٌ وَهَذَا عِنْدَهُمَا عَلَى الِاسْتِحْبَابِ

Dan sungguh para sahabat Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah berbeda pendapat tentang shalat qabliyah maghrib. Sebagian mereka tidak menganggap adanya shalat sebelum maghrib. Padahal telah diriwayatkan lebih dari satu sahabat Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka melakukan shalat sebelum maghrib sebanyak dua rakaat di antara iqamat dan adzan. Berkata Imam Ahmad dan Imam Ishaq bin Rahawaih, jika melakukan dua rakaat itu adalah hal yang bagus, dan hal itu bagi mereka berdua adalah sunnah (istihbab) [Sunan At Tirmidzi No. 185].

Setidaknya ada tiga pendapat tentang kedudukan hukum shalat sunnah Qabliyah Magrib yaitu:

Pendapat Pertama, tidak ada anjuran shalat qabliyah maghrib

Menurut Hanafiyah, shalat sunnah qabliyah maghrib tidak dianjurkan. Yang dianjurkan, tidak melaksanakan shalat. Sementara menurut Malikiyah, shalat sunnah qabliyah maghrib hukumnya makruh.

Diantara dalil pendapat ini adalah

Riwayat dari Thawus, bahwa Ibnu Umar pernah ditanya tentang shalat sunah qabliyah maghrib. Jawaban Ibnu Umar,

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا ، وَرَخَّصَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ

Aku tidak melihat seorangpun di masa Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam yang melaksanakan shalat qabliyah maghrib. Dan Ibnu Umar memberikan rukhshah untak 2 rakaat sesudah ashar. [HR. Abu  Daud  No. 1284]

Dari Ibrahim an-Nakha’i – ulama tabi’in, beliau mengatakan,

لم يصل أبو بكر ، ولا عمر ، ولا عثمان ، الركعتين قبل المغرب

“Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak melaksanakan shalat 2 rakaat sebelum maghrib.” [HR. Abdurrazaq 2/434]

Pendapat Kedua, shalat sunnah qabliyah maghrib hukumnya boleh (mubah) dan tidak makruh, meskipun tidak dijadikan sunnah.

Ini merupakan pendapat madzhab Hambali. Mereka berdalil dengan pernyataan Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu,

كُنَّا نُصَلِّي عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ ، فَقُلْتُ لَهُ : أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّاهُمَا ؟ قَالَ : كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا ، وَلَمْ يَنْهَنَا

Di zaman Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, kami shalat 2 rakaat setelah adzan maghrib, sebelum shalat maghrib. Mukhtar bertanya kepada Anas, “Apakah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengerjakannya?” kata Anas, “Beliau melihat kami mengerjakan shaat itu, dan beliau tidak memerintahkan kami, juga tidak melarang kami.” [HR. Muslim No. 836]

Keterangan seorang Tabi’in, Zir bin Hubaisy,

كان عبد الرحمن بن عوف ، وأبي بن كعب يصليان الركعتين قبل المغرب

Abdurrahman bin Auf dan Ubay bin Ka’ab melaksanakan shalat 2 rakaat sebelum maghrib. [HR. Abdurrazaq, 2/433].

Ibnul Qayyim mengatakan, “Di dalam Shahihain terdapat hadits dari Abdulloh Al-Muzani dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengatakan, ‘Shalatlah sebelum Maghrib! Shalatlah sebelum Maghrib!’ dan beliau katakan di ketiga kalinya, ‘Bagi yang mau’ karena tidak ingin dijadikan kebiasaan oleh umatnya. Inilah yang benar, yakni bahwasannya shalat ini hanya shalat sunnah biasa, bukan termasuk shalat sunnah rawatib seperti shalat sunnah rawatib yang lain.” [Zadul Ma’ad, 1/312].

Pendapat Ketiga, dianjurkan melakukan shalat qabliyah maghrib

Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Ibnu Hazm adz-Dzahiri

Mereka berdalil dengan beberapa hadits berikut,

Hadits dari Abdulloh bin Mughaffal Al-Muzani radhiyallohu ‘anhu, Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا قَبْلَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ . – قَالَ فِي الثَّالِثَةِ -: لِمَنْ شَاءَ ، كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

“Shalatlah sebelum shalat Maghrib” 3 kali dan pada yang ketiga, beliau mengatakan, “Bagi yang mau.”

Karena beliau tidak suka kalau umatnya menjadikan itu sebagai suatu kebiasaan. [HR. Bukhari  No. 1183]

Hadits ini menunjukkan shalat sunnah Qabliyah maghrib itu sunnah, tapi bagi yang mau, kalimat ini menunjukkan tidak mu’akkadah.

كُنَّا بِالْمَدِينَةِ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرُوا السَّوَارِيَ، فَيَرْكَعُونَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ الْغَرِيبَ لَيَدْخُلُ الْمَسْجِدَ فَيَحْسِبُ أَنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ، مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا

“Kami dulu di Madinah, saat muadzin beradzan untuk shalat Maghrib, mereka (para sahabat senior) saling berlomba mencari tiang-tiang, lalu mereka shalat 2 rakaat. Sehingga ada orang asing yang masuk masjid untuk shalat, dia mengira bahwa shalat maghrib telah dilaksanakan karena saking banyaknya yang melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib.” [HR. Muslim No.  837].

Dalam riwayat lain, Hadits dari Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu yang menceritakan kebiasaan para sahabat ketika sudah masuk waktu maghrib,

لَقَدْ رَأَيْتُ كِبَارَ أَصْحَابِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِي عِنْدَ الْمَغْرِبِ

“Sungguh aku melihat para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior saling berlomba mengejar tiang-tiang (untuk dijadikan tempat shalat) ketika masuk waktu maghrib.” [HR. Bukhari Np. 503].

Para sahabat berebut mencari tiang tujuannya adalah mencari sutrah (pembatas shalat).

Abu Tamim Al Jaisyani pernah shalat dua rakaat sebelum maghrib, ketika ia ditanya oleh ‘Uqbah bin Amir Al Juhani tentang shalat apa itu, ia menjawab:

هَذِهِ صَلَاةٌ كُنَّا نُصَلِّيهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ini adalah shalat yang kami lakukan pada masa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam.” [HR. An Nasa’i No. 582, juga dalam As Sunan Al Kubra No. 374, shahih]

Imam Ibnu Abi Syaibah juga menyebutkan:

حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ ، عَنْ أَبِي فَزَارَةَ ، قَالَ : سَأَلْتُ أَنَسًا ، عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ ، فَقَالَ : كُنَّا نَبْتَدِرُهُمَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

Berkata kepada kami Ghundar, dari Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha, dari Abu Fazarah, katanya: Aku bertanya kepada Anas tentang dua rakaat sebelum maghrib, dia menjawab: “Kami dahulu menyegerakan dua rakaat itu pada zaman Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam.” [Al Mushannaf No. 8458]

Al Hakam menceritakan bahwa Ibnu Abi Laila melakukan dua rakaat sebelum maghrib. [Ibid, No. 8459]

Masih dari Imam Ibnu Abi Syaibah:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ إبْرَاهِيمَ ، قَالَ : قَالَ تَمِيمُ بْنُ سَلاَّمٍ ، أَوْ سَلاَّمُ بْنُ تَمِيمٍ لِلْحَسَنِ : مَا تَقُولُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ ، فَقَالَ : حَسَنَتَانِ جَمِيلَتَانِ لِمَنْ أَرَاْدَ اللَّهُ بِهِمَا

Berkata kepada kami Waki’, dari Yazid bin Ibrahim, katanya: berkata Tamim bin Sallam, atau Sallam bin Tamim, kepada Al Hasan: “Apa pendapatmu tentang dua rakaat sebelum maghrib? Dia berkata: “Dua rakaat yang bagus dan indah, bagi siapa yang Alloh kehendaki terhadap keduanya.” [Ibid, No. 8463]

Imam Ibnu Hibban menceritakan, bahwa Ibnu Buraidah melakukan shalat dua rakaat sebelum maghrib. [Shahih Ibnu Hibban No. 1559]

Imam Ibnu Hibban ada Bab khusus tentang ini berjudul:

ذكر البيان بأن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم كانوا يصلون الركعتين قبل المغرب والمصطفى صلى الله عليه وسلم حاضر فلم ينكر عليهم ذلك

Penjelasan bahwa para sahabat Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat sebelum maghrib, dan Al Mushthafa (Nabi) Shallallohu ‘alaihi wa sallam ada, dan dia tidak mengingkari mereka atas hal itu. [Shahih Ibnu Hibban, 4/458]

Dari Mukhtar bin Fulful: Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang shalat dua rakaat setelah ashar, Dia menjawab:

كَانَ عُمَرُ يَضْرِبُ الْأَيْدِي عَلَى صَلَاةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ وَكُنَّا نُصَلِّي عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَقُلْتُ لَهُ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّاهُمَا قَالَ كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا

Umar memukul tanganku lantaran shalat setelah Ashar, dan kami pada masa Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat setelah terbenamnya matahari sebelum shalat maghrib. Aku (Mukhtar) bertanya kepadanya: “Apakah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua rakaat itu?” Beliau menjawab: “Dia melihat kami shalat, tidak memerintahkan dan tidak pula mencegah kami.” [HR. Muslim No. 836]

Keterangan seorang Tabi’in, Zir bin Hubaisy,

كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفَ ، وَأُبَيِ بْنِ كَعْبٍ يُصَلّيَانِ الرّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ

Abdurrahman bin Auf dan Ubay bin Ka’ab melaksanakan shalat 2 rakaat sebelum maghrib. [HR. Abdurrazaq, 2/433].

Dari sekian banyak hadits, dan perilaku para salaf, berkatalah Imam Ash Shan’ani Rahimahulloh:

وَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهَا تُنْدَبُ الصَّلَاةُ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ إذْ هُوَ الْمُرَادُ مِنْ قَوْلِهِ ” قَبْلَ الْمَغْرِبِ ” لَا أَنَّ الْمُرَادَ قَبْلَ الْوَقْتِ لِمَا عُلِمَ مِنْ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْ الصَّلَاةِ فِيهِ “وفي رواية لابن حبان” أي من حديث عبد الله المذكور “أن النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم صلى قبل المغرب ركعتين” فثبت شرعيتهما بالقول والفعل

“Itu adalah dalil bahwa dianjurkan (sunah) shalat sebelum shalat maghrib, jika yang dimaksud adalah shalat qabla maghrib, bukannya shalat sebelum waktu maghrib yang telah diketahui bahwa itu memang termasuk waktu dilarang shalat. Dalam riwayat Ibnu Hibban, yaitu hadits dari Abdulloh yang telah disebutkan, bahwa Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam shalat sebelum maghrib sebanyak dua rakaat. Maka, telah pasti syariat shalat dua rakaat itu secara qaul (ucapan) dan fi’il (perkataan) nabi.” [Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, 2/52. Lihat juga ‘Aunul Ma’bud, 4/113]

Pendapat yang Rajih (kuat)

Adapun pendapat yang Rajih (kuat) dan Mu’tamad (yang kami pegang) adalah shalat sunnah qabliyah Maghrib hukumnya dianjurkan (sunnah atau masyru’) Sebagaimana Keputusan Tajih di Wiradesa Pecenongan – Pekalongan [Lihat HPT, hal. 321/ 332 atau 323/ 334]. Hanya saja, statusnya tidak sebagaimana rawatib lainnya. Shalat sunnah qabliyah Maghrib adalah sunah biasa.

Demikian jawaban kami, semoga bisa mencerahkan

Wallohu a’lam bish-shawab.

Berita Lainnya

lazismusurabaya.org – Suasana penuh kehangatan menyelimuti Masjid SMA Muhammadiyah 2 Surabaya di Jalan Pucang Anom Timur No. 91 pada Minggu terakhir di...

lazismusurabaya.org – Suasana penuh ketulusan menyelimuti Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Surabaya yang berlokasi di Jl. Wuni No.9, Ketabang, Kec. Genteng, Kota Surabaya...

lazismusurabaya.org – Di saat sebagian besar warga Kota Pahlawan masih terlelap, puluhan pemuda terlihat bahu-membahu mendorong sebuah mobil operasional yang mogok di...