Terus Menebar Pesan Kepahlawanan Melalui ZIS | Berita Populer Lazismu

Share :

Donasi Sekarang

Zakat Penghasilan

Lazismu Surabaya

Zakat penghasilan atau zakat usaha dikenakan pada penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari usaha, bisnis, atau profesi.

Abdul  Hakim

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. TQS Ali Imron 104.

Pada bulan Nopember ini kita kembali diingatkan pesan kepahlawanan. Ya, 10 Nopember 1945 adalah momentum historis yang merekam peristiwa besar kepahlawanan Arek-Arek Suroboyo khususnya.  Peristiwa heroik nan gagah itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional bagi bangsa Indonesia. Hari yang terus menginspirasi dan memotivasi bangsa Indonesia untuk tetap menggelorakan esensi dan nilai kepahlawanan itu setiap tahun kita peringati menjadi salah satu amanat yang mencerahkan. Kepahlawanan yang dilandasi nilai keimanan, adalah energi penggerak utama perlawanan Arek Suroboyo khususnya melawan dan mengusir agresor Inggris yang hendak mengembalikan kolonialis Belanda kembali menjajah negeri ini.

Pekik heroik “Allohu Akbar” yang dilandasi Resolusi Jihad itu digelorakan Bung Tomo  menjadi energi spiritual yang mampu membakar semangat jihad Arek Suroboyo melawan kezaliman penjajah. Penjajah, kapan pun dan di mana pun sudah pasti menghalalkan segala cara demi melumpuhkan target jajahannya. Mereka lupa, darah kepahlawanan yang dilandasi iman dan taqwa tidak akan pernah pudar oleh arogansi agresor penjajah  yang selalu rakus dunia dan  nafsu yang membutakan hati dan pikiran. Ghirah kepahlawanan orang beriman tidak akan pernah lapuk karena hujan, tidak pula lekang karena panas. Gairah kepahlawanan setiap mukmin akan selalu menggelegak menghadapi nafsu liar buas dan beringas para penjajah. Lebih baik mati syahid berkalang tanah, daripada hidup berputih tulang, apalagi bercermin bangkai, tunduk di bawah ketiak para penjajah.

Dalam makna terbatas, kepahlawanan memang sering dihubungkan dengan mereka yang telah berjuang dan berkorban jiwa-raga tanpa pamrih demi membela dan membebaskan  tanah air dari penjajah atau kolonialis yang telah menjarah negeri. Maka, di negeri ini,   kita mengenal pahlawan Diponegoro , Imam Bonjol,  Cuk Nya’ Din,  Kartini, Hasanuddin, Pattimura, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Sudirman, dan beratus atau beribu nama pahlawan kemerdekaan lainnya yang telah gugur di medan laga, berjuang  demi meraih, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

Para pejuang yang berkorban demi tegaknya Islam adalah para pahlawan. Mereka adalah para syahid. Kita mengenal banyak pahlawan yang syahid di banyak ragam medan perang. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khondak, Perang Salib, dan peperangan lainnya adalah medan jihad yang telah melahirkan ratusan, ribuan, bahkan jutaan pahlawan yang syahid demi membela dan menyelamatkan Islam, umat dan tanah air Islam. Para syahid itu dimuliakan Alloh  di dunia dan di akhirat. Maka, wajar bila setiap  mukmin berrharap dirinya bisa berjuang atau berjihad demi meraih syahid, gelar terhormat kepahlawanan Islam.

Tentu radius nilai dan pesan kepahlawanan itu demikian luas. Setiap kontribusi kebaikan yang memberi manfaat kemanusiaan adalah pesan kepahlawanan. Pahlawan adalah mereka yang didefinisikan  telah berjasa bagi sedikit atau banyak orang, komunitas, organisasi, bangsa atau negara. Tentu,  ruang dan jatah kepahlawanan  tidak terbatas bagi para pejuang kemerdekaan. Ya, pahlawan adalah para pembebas, pencerah, inspirator dan motivator. Pembebas  dari beragam krisis, baik  sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Pembebas dari kebodohan, kelaparan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan beragam krisis, kondisi genting, alias gawat.  Siapapun yang telah memberikan kontribusi positif, menyumbangkan kebajikan nyata melalui pikiran, perasaan, tenaga dan harta demi mengentas kebodohan, kemiskinan, kelaparan, atau meredam konflik dan krisis sumber daya manusia adalah  pahlawan. Mereka adalah para pahlawan, pejuang kemanusiaan.

Kepahlawanan adalah komitmen sosial kemanusiaan untuk menegakkan kebajikan, memotivasi perbuatan makruf dan mencegah kemungkaran sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surat Ali Imron 104 di atas. Kepahlawanan dapat pula dimaknai dalam bentuk jihad harta (amwal) dan jiwa (anfus) tanpa terikat ruang dan waktu. Kepahlawanan adalah  pesan humanitarian Islam. Setiap mukmin yang berkomitmen mengentas para mustahik melalui zakat, infaq dan sodaqoh demi membersihkan dan mensucikan diri adalah pahlawan.

Para donatur atau muzakky yang menyalurkan sebagian harta dalam bentuk zakat, infak, dan sodaqoh demi mengentas nasib para mustahik dari ketidakberdayaan, sejatiya adalah pahlawan. Alloh pasti memuliakan mereka di dunia ini, apalagi di akhirat nanti. Mereka  lebih mulia dibanding orang kaya, pejabat atau pengusaha yang lebih suka jadi penonton, yang lebih suka menyembunyikan atau menimbun harta mereka di lembaga keuangan. Atau yang menghitung-hitungnya dengan penuh bangga tanpa peduli berjuta saudaranya tengah menunggu uluran tangan dalam beragam derita dan kepiluan. Alloh berfirman dalam Surat At-Taubah 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (Surabaya, Oktober2023)

Berita Lainnya

lazismusurabaya.org – Suasana penuh kehangatan menyelimuti Masjid SMA Muhammadiyah 2 Surabaya di Jalan Pucang Anom Timur No. 91 pada Minggu terakhir di...

lazismusurabaya.org – Suasana penuh ketulusan menyelimuti Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Surabaya yang berlokasi di Jl. Wuni No.9, Ketabang, Kec. Genteng, Kota Surabaya...

lazismusurabaya.org – Di saat sebagian besar warga Kota Pahlawan masih terlelap, puluhan pemuda terlihat bahu-membahu mendorong sebuah mobil operasional yang mogok di...