lazismusurabaya.org — Jajaran pengurus Lazismu Kota Surabaya menghadiri Rapat Koordinasi Manajer Lazismu Daerah se-Jawa Timur yang dihelat di Vila Bukit Bunga, Lereng Gunung Wilis, Desa Besuki, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Pertemuan strategis tingkat regional ini berlangsung intensif selama dua hari penuh, terhitung mulai Sabtu (31/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026). Agenda tahunan tersebut dihadiri oleh hampir seluruh pimpinan dan manajer operasional dari berbagai daerah di wilayah Provinsi Jawa Timur guna menyelaraskan gerak langkah organisasi filantropi tersebut.
Forum koordinasi ini menghadirkan empat narasumber kunci yang memaparkan berbagai materi krusial terkait arah kebijakan kelembagaan. Para pemateri tersebut meliputi Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur Prof. Dr. Sigit Hermawan, M.Si., jajaran pimpinan BP Lazismu Jawa Timur Agus Lukmanul Hidayat, Manajer Lazismu Area Jawa Timur Aditya Yudono, serta Manajer Keuangan Lazismu Jawa Timur Dini. Kehadiran para pimpinan wilayah ini memberikan ruang dialog langsung bagi para pengelola tingkat daerah untuk mengevaluasi capaian kinerja sekaligus merumuskan strategi penyehatan organisasi ke depan.
Sejumlah pokok bahasan utama mendominasi jalannya sidang pleno selama dua hari tersebut. Di antaranya adalah pemaparan mendalam mengenai laporan kinerja penghimpunan dana Lazismu se-Jawa Timur sepanjang tahun 2026, evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan program Ramadan 2026, serta penyampaian laporan dan testimoni dari lima daerah dengan perolehan pengumpulan dana kurban terbanyak. Selain itu, forum ini juga mematangkan persiapan teknis menjelang Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lazismu Jawa Timur yang dijadwalkan bergulir pada 4 hingga 6 Desember 2026 mendatang di Kabupaten Jember.
Di luar agenda evaluasi rutin, peserta rapat turut mengkaji rencana sosialisasi pelaksanaan DAM haji tahun 2027. Pelaksanaan program tersebut saat ini masih menunggu terbitnya Surat Keputusan (SK) resmi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah maupun Lazismu Nasional agar memiliki landasan operasional yang seragam. Sementara itu, terkait program Safari Ramadan Syekh Palestina, forum memutuskan untuk menyerahkan kewenangan teknis penyelenggaraan secara mandiri kepada masing-masing daerah yang berminat, menyusul tingginya kendala logistik dan birokrasi dalam mendatangkan figur Syekh langsung dari luar negeri.
Sorotan tajam juga diarahkan pada aspek digitalisasi pelaporan melalui optimalisasi Sistem Informasi Manajemen Lazismu (SIMASKA). Berdasarkan evaluasi data wilayah, pelaporan penghimpunan dan penyaluran infak maupun sedekah donatur di berbagai daerah dinilai belum maksimal. Karena itu, forum sepakat memperkuat pengawasan sistem ini sebagai persiapan menghadapi audit eksternal dan internal pada tahun anggaran berikutnya. (Ysf)



