Dunia Pendidikan: Budaya Diskusi Membangun Karakter | Berita Populer Lazismu

Share :

Donasi Sekarang

Zakat Penghasilan

Lazismu Surabaya

Zakat penghasilan atau zakat usaha dikenakan pada penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari usaha, bisnis, atau profesi.

Budaya Diskusi Membangun Karakter

Oleh: Ir Sudarusman

Dunia pendidikan adalah salah satu wadah pembentukan karakter bangsa. Sekolah menjadi salah satu tempat untuk berjuang membawa Indonesia ke dalam tantangan global. Tantangan ini pun menjadi sebuah wacana kuat untuk berlomba-lomba membangun sekolah dengan kualitas dan kuantitas yang hebat.

Namun, dunia pendidikan sangat berbeda dengan kenyataan yang ada. Selama satu dasawarsa terakhir ini, kita disuguhi peristiwa kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Mulai dari perdebatan adu mulut hingga pemukulan fisik pun terjadi. Baik terjadi antar siswa, tidak sedikit pula dilakukan oleh guru.

Pernah terjadi guru dilaporkan ke polisi dikarenakan melakukan pemukulan terhadap siswanya. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi pada dunia pendidikan, mengapa? Karena guru sebagai panutan dan inspirator seharusnya dapat memberikan teladan, kesantunan dan pola pikir yang rasional melalui pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.

Sebagai guru, kita malu melihat kenyataan di beberapa kejadian kekerasan yang melibatkan siswa dan guru. Berbagai pendapat dari kalangan pemerhati pendidikan, ini semua, salah satunya terjadi lantaran kurang berhasilnya guru dalam mengembangkan kompetensi yang sehat dalam mendorong budaya dialog. Oleh karena itu, guru diharapkan memberikan pembelajaran tentang bagaimana menyikapi perbedaan pendapat dengan cara pandang yang rasional dengan penuh kearifan, melalui proses pembelajaran dalam bentuk diskusi ataupun debat terbuka.

Melakukan kegiatan diskusi berarti memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan adu argumentasi akan perbedaan pendapat. Melalui diskusi juga berarti memfasilitasi bakat atau keterampilan menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Yang diharapkan dari kegiatan ini, siswa akan mencari data pendukung untuk memperkuat pendapatnya masing-masing, sehingga dapat berlatih dalam memahami perbedaan terhadap orang lain.

Ingin menang sendiri, ingin benar sendiri, dalam setiap perbedaan pemikiran di sekolah yang diakhiri dengan tidak saling bertegur sapa, bahkan mengarah kekerasan tidak seharusnya terjadi. Dalam hal ini guru dapat memberikan teladan dan pengertian secara terus-menerus tentang bagaimana bersikap empati dan simpati. Guru selalu mendorong peserta didiknya agar bisa mengamati etika dan perilaku yang tepat pada tingkah lakunya.

Untuk menghasilkan perilaku yang baik dalam kehidupan pribadi siswa harus belajar dari pengalaman diri sendiri, itu semua bisa dilakukan dengan keteladanan, inspirasi dan motivasi guru melalui pembelajaran dalam bentuk diskusi atau debat. Sehingga siswa memiliki rasionalitas yang luas dan kompetensi berkomunikasi yang baik.

Pembiasaan mau mendengar dan berkomunikasi dengan baik pada setiap perbedaan pemikiran adalah pembentukan kompetensi sosial. Sehingga kekerasan yang terjadi pada lembaga pendidikan seharusnya tidak perlu terjadi, karena lingkungan sekolah memiliki kompetensi berkomunikasi dan sosial yang baik. Tetapi tidak sedikit sekolah gagal mengembangkan kompetensi-kompetensi dasar berkomunikasi. Sehingga sering terjadi ketidakseimbangan relasi antara guru dan siswa, yang mengakibatkan terjadinya kekerasan di sekolah.

Kompetensi berkomunikasi merupakan basis kecerdasan emosi dan spiritual yang harus dimiliki oleh setiap individu. Karena tanpa kecakapan itu, mereka yang amat rasional namun tidak cerdas secara emosional, akan muncul sikap-sikap ingin menang sendiri, ingin benar sendiri. Oleh karena itu, sekolah diharapkan adanya kegiatan diskusi akan menghasilkan masyarakat yang beretika berperilaku baik, dan yang paling penting memiliki kompetensi berkomunikasi, sehingga dalam setiap menyelesaikan perbedaan akan melalui alternatif yang baik tanpa kekerasan.

Untuk mencapai hal tersebut, sekolah sebaiknya bukan hanya memfokuskan kegiatan pembelajaran clasikal saja dengan guru sebagai peran utama, tetapi harus memperhatikan bahwa Siswa memiliki potensi yang harus difasilitasi. Maka dari itu, guru sebagai pendidik harus mampu menjadi media untuk memberdayakan ranah sosial dan religi pada setiap peserta didiknya. Artinya siswa diharapkan memiliki etika dan moral yang baik sehingga dapat berkomunikasi yang sehat serta dapat membedakan mana yang jelek dan mana yang baik.

Dari sudut pandang apapun, guru adalah salah satu profesi yang terpenting dalam mengembangkan budaya kesantunan, rasionalitas, serta kompetensi berkomunikasi dan sosial yang sehat. Oleh karena itu, membangun sebuah lingkungan sekolah yang kondusif dan beretika merupakan bagian strategi yang terpenting untuk merealisasikan proses-proses pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi berkomunikasi.

Sekolah memiliki peran besar untuk menanamkan dasar-dasar sosial dan bangga beragama, yaitu dengan cara mengembangkan proses-proses pembelajaran berbahasa yang membangun kompetensi komunikasi yang baik dan ada keberanian untuk melakukan inovasi model pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik sebagai peran lebih besar daripada gurunya, diantaranya dalam bentuk diskusi. Ini bukan pekerjaan mudah bagi guru dan memerlukan proses yang tidak bisa dilakukan dengan instan.

Berita Lainnya

lazismusurabaya.org – Di saat sebagian besar warga Kota Pahlawan masih terlelap, puluhan pemuda terlihat bahu-membahu mendorong sebuah mobil operasional yang mogok di...

lazismusurabaya.org – Langkah mulia untuk menghadirkan tempat ibadah yang nyaman di wilayah Surabaya Barat resmi dimulai. Pada Jumat (6/3/2026), prosesi peletakan batu...

lazismusurabaya.org – Di saat sebagian besar warga Kota Pahlawan masih terlelap dalam mimpi, semangat berbagi justru terpancar kuat di lorong-lorong Rumah Sakit...