lazismusurabaya.org – Malam pertama Ramadhan di Masjid Baitul Muttaqien, Keputih, Sukolilo, Surabaya, terasa berbeda. Sejak usai salat Isya, jamaah berdatangan dari berbagai penjuru. Pelataran masjid penuh, lantai dua pun dipadati barisan mukena dan sarung yang tersusun rapi, menandakan antusiasme warga menyambut tarawih perdana.
Di depan, berdiri seorang tamu istimewa dari jauh: Syaikh Muhammad Shammallakh. Dengan suara yang lembut dan tartil, ayat-ayat Al-Qur’an mengalun pelan, menenangkan. Setiap bacaan terasa meresap, membuat suasana masjid hening, khusyuk, dan penuh haru.
Syaikh Muhammad Shammallakh bukan sekadar imam tamu. Ia adalah seorang hafidz Al-Qur’an bersanad, guru tajwid, sekaligus imam di Masjid Mus’ab bin Umair, Kota Gaza, Palestina. Dari tempat yang setiap hari akrab dengan dentuman dan reruntuhan, ia kini berdiri di tengah jamaah Surabaya, membawa kisah yang tak mudah didengar.
Usai tarawih, melalui penerjemah, ia bercerita tentang kondisi Gaza setelah serangan zionis. Suaranya tenang, namun setiap kata terasa berat.
“Di Gaza sudah tidak ada gedung yang utuh. Kebanyakan warga yang selamat tinggal di bawah reruntuhan bangunan tanpa atap yang kokoh atau di dalam tenda,” lanjutnya, “Jika malam datang, suhu terasa hingga membekukan tulang. Dan jika siang datang, panasnya seakan membakar kulit.”
Jamaah terdiam. Sebagian menunduk, sebagian lain mengusap mata. Di tengah kenyamanan kota besar, cerita itu seperti membuka jendela menuju realitas yang jauh, namun terasa begitu dekat di hati.
Kehadiran Syaikh Muhammad Shammallakh merupakan bagian dari program Safari Imam Palestina yang digagas LAZISMU. Wakil Ketua LAZISMU Jawa Timur bidang pendistribusian dan pendayagunaan, Aditio Yudono, menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin digelar setiap Ramadhan dan telah berjalan selama enam tahun.
“LAZISMU senantiasa menunjukkan komitmen dan dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina yang masih terus menderita di bawah kekejaman zionis Israel. Dukungan itu kami wujudkan dalam bentuk bantuan kemanusiaan yang setiap tahun dikirim ke Gaza dan Tepi Barat melalui berbagai saluran,” ujar Wakil Ketua LAZISMU Jatim membidangi pendistribusian dan pendayagunaan Aditio Yudono saat menjemput kedatangan syaikh di Bandara Juanda Surabaya, 17 Februari 2026.

Tak hanya bantuan, LAZISMU juga memfasilitasi pemuda Palestina untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Menurut Aditio, Safari Ramadhan tahun ini yang mengusung tema “Palestina, bangkit, pulih, dan kuat kembali” tidak semata untuk menggalang donasi.
“Kami ingin menautkan hati bangsa Indonesia dan Palestina, membangun persaudaraan, dan bersama-sama meraih perdamaian sejati di dunia,” tambahnya.
Selama 20 hari, mulai 17 Februari hingga 7 Maret 2026, dua imam dari Gaza akan bersafari ke 13 daerah di Jawa Timur, mengunjungi sekitar 90 masjid, sekolah, dan lokasi dakwah. Kegiatan teknis dilaksanakan oleh tim LAZISMU di masing-masing daerah.
Syaikh Muhammad Shammallakh dijadwalkan mengunjungi sejumlah kota dan kabupaten, di antaranya Surabaya, Mojokerto, Malang, Blitar, Tuban, hingga kembali ke Surabaya di akhir rangkaian. Di setiap tempat, ia tidak hanya menjadi imam tarawih, tetapi juga mengisi ceramah, menjadi imam subuh, memberikan tausiyah jelang berbuka, serta melakukan tasmi’, tahsin, dan tahfidz Al-Qur’an di sekolah maupun pesantren.
Malam itu, tarawih pertama di Masjid Baitul Muttaqien bukan sekadar ibadah pembuka Ramadhan. Ia menjadi pertemuan dua dunia: Surabaya yang damai dan Gaza yang terluka. Di antara ayat-ayat yang dilantunkan, jamaah seakan diingatkan bahwa Ramadhan juga tentang empati, persaudaraan, dan kepedulian yang melampaui batas negara.
Melalui Safari Dakwah ini, LAZISMU Surabaya mengajak warga untuk melipatgandakan kebaikan, tidak hanya untuk sesama di sekitar kota melalui program Sahur untuk Keluarga Pasien, Tebar Takjil, Kado Ramadhan, Back to Masjid, Taman Lansia, dan Mudikmu Aman, tetapi juga untuk saudara-saudara seiman di Gaza yang masih hidup dalam penjajahan.
Di ujung ceramahnya, Syaikh Muhammad Shammallakh hanya menyampaikan satu harapan sederhana: doa.
Agar suatu hari, suara Al-Qur’an bisa kembali berkumandang di Gaza tanpa diiringi suara ledakan. (Nurm)



