lazismusurabaya.org – Matahari sedang tepat di atas kepala, menyengat sisa-sisa lumpur yang mulai mengering di dinding Masjid Baiturrahim, Desa Sunting. Tepat pukul 13.00 WIB, suasana yang biasanya sunyi oleh trauma, perlahan pecah oleh langkah kaki warga yang datang memenuhi undangan pengajian. Di sudut ruangan, tumpukan kaleng Rendangmu dan barisan gelas kemasan air minum Lazismu tertata rapi, siap menjadi pelipur lara bagi perut-perut yang mungkin beberapa hari ini hanya diisi seadanya.
Lazismu Surabaya hadir bukan sekadar membawa angka-angka bantuan, melainkan membawa kepingan martabat yang sempat hanyut bersama banjir bandang. Harun Arafat dan tim relawan bergerak dengan gesit, memastikan setiap warga mendapatkan haknya. Aroma rendang yang khas seolah menjadi mesin waktu, membawa warga sejenak melupakan derita rumah yang terendam hingga atap, dan menggantinya dengan kehangatan sebuah jamuan keluarga besar.

Hingga jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB, kebersamaan itu tidak memudar. Menikmati sepiring nasi dengan lauk rendang dan seteguk air Lazismu di tengah suasana pasca bencana adalah sebuah kemewahan batin. Langkah nyata ini membuktikan bahwa solidaritas dari Surabaya bukanlah sekadar retorika jurnalistik, melainkan jembatan kasih yang memangkas jarak ribuan kilometer demi satu tujuan: memastikan bahwa di Aceh Tamiang, tidak ada satu pun orang tua yang menangis karena anaknya kelaparan malam ini.
Ketika acara berakhir dan warga mulai melangkah pulang dengan wajah yang lebih cerah, terlihat jelas bahwa misi ini telah melampaui sekadar bantuan logistik. Ada ikatan batin yang tertinggal di antara tumpukan kaleng rendang yang kosong dan botol air yang habis terminum—sebuah janji tak tertulis bahwa persaudaraan ini tidak akan hanyut meski diterjang banjir bandang sekalipun. Lazismu Surabaya telah meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus diceritakan warga Sunting kepada anak cucu mereka, tentang bagaimana rasa peduli mampu mengubah duka menjadi secercah harapan yang nyata. (Ysf)



