Menjemput Keindahan Bacaan, Menjaga Kemurnian Makna

Peserta tahsin Al-Qur’an Ramadhan 1447H Lazismu Surabaya

Share :

Donasi Sekarang

Zakat Penghasilan

Lazismu Surabaya

Zakat penghasilan atau zakat usaha dikenakan pada penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari usaha, bisnis, atau profesi.

lazismusurabaya.org – Pagi yang tenang menyelimuti kawasan Ketabang, Surabaya. Di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Jl. Wuni No. 9, lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan namun penuh makna. Selama dua hari, Jumat-Sabtu, 20-21 Februari 2026, puluhan imam, takmir, hingga jamaah masjid hadir, membuka mushaf, dan menata niat: memperbaiki bacaan Kalamullah.

Hadir di tengah mereka, Syaikh Muhammad Shammallakh, seorang hafidz Al-Qur’an bersanad, guru tajwid, sekaligus imam Masjid Mus’ab bin Umair di Kota Gaza, Palestina. Dari tanah yang terus diuji konflik, beliau membawa bukan kisah duka, melainkan cahaya ilmu.

Dengan suara lembut dan penuh ketenangan, Syaikh membuka majelis dengan satu pesan penting: perbaikan bacaan dimulai dari langkah kecil.

“Mulailah dari yang pendek-pendek. Dari yang mudah. Step by step. InsyaAllah, Allah akan beri rezeki untuk memperbaiki bacaan dan memperindah suara kita,” ujarnya mengawali pembelajaran.

Para peserta menyimak dalam diam. Sebagian mencatat, sebagian lagi menunduk, merenungi bacaan mereka selama ini.

Tiga Langkah Menapaki Perbaikan

Syaikh Muhammad menjelaskan bahwa ada tiga langkah utama dalam memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

Pertama, mempelajari kitab-kitab tajwid dan ilmu tilawah. Ilmu harus punya dasar. Bacaan tidak cukup hanya kebiasaan, tetapi perlu pemahaman.

Kedua, memperbanyak istima’, mendengar bacaan para qari’ yang sudah pakar. Nama-nama seperti Syekh Abdul Basit Abdul Samad dan Syekh Al-Minshawi disebut sebagai rujukan.

“Putar rekamannya, dengarkan, hentikan, lalu ulangi. Sedikit demi sedikit,” ujar beliau.

Ketiga, at-tadarruj, belajar bertahap. Dari surat-surat pendek, lalu meningkat ke ayat yang lebih panjang. Jangan tergesa.

Namun tahsin bukan hanya soal teori. Ia soal latihan yang terus-menerus. Syaikh menekankan pentingnya melatih pengucapan huruf-huruf yang hampir serupa, seperti huruf tha dan ta, atau shad dan sin, yang bagi lidah Jawa terasa begitu mirip.

“Kita harus hati-hati. Karena setiap huruf ada haknya. Ada makhraj-nya,” tuturnya.

Menata Nafas, Menjaga Makna

Di tengah sesi, Syaikh mengajarkan latihan sederhana: tarik nafas dari hidung, keluarkan perlahan dari mulut. Latihan itu tampak sepele, namun menjadi kunci panjangnya nafas saat membaca ayat.

“Qari’ bisa membaca panjang karena dilatih. Nafas itu dilatih,” katanya sambil mempraktikkan.

Beliau juga mengingatkan bahwa berhenti dalam membaca Al-Qur’an tidak boleh sembarangan. Ada ilmu waqaf dan ibtida’, kapan berhenti, kapan memulai kembali. Salah berhenti bisa merusak makna. “Jangan sampai karena kehabisan nafas, makna ayat berubah,” pesannya.

Lebih dalam lagi, beliau menekankan pentingnya memahami tafsir sebelum membaca. Mengetahui makna ayat, sebab turunnya, dan konteksnya akan membuat bacaan lebih hidup bukan sekadar suara, tetapi penghayatan.

Membaca Pelan sebagai Bentuk Kerendahan Hati

Satu pesan yang paling menyentuh adalah ketika Syaikh berkata bahwa tidak semua orang harus membaca dengan suara tinggi dan cepat.

“Kalau bacaan kita belum baik, bacalah pelan. Perlahan. Supaya huruf terjaga. Tajwid terjaga.”

Di ruangan itu, beberapa imam terlihat terdiam lebih lama. Ada kesadaran yang tumbuh: bahwa memperbaiki bacaan bukan soal gengsi, melainkan kerendahan hati di hadapan Kalamullah.

Satu per satu peserta kemudian maju mempraktikkan bacaan Surah Al-Fatihah. Syaikh mengoreksi dengan lembut, membenarkan makhraj, memperbaiki dengung, mengingatkan panjang-pendek harakat. Tidak ada nada menghakimi, hanya bimbingan dan senyum sabar.

Setiap kesalahan menjadi pelajaran bersama.

Dari Gaza untuk Surabaya

Di balik majelis ilmu itu, tersimpan makna yang lebih luas. Syaikh datang dari Gaza, tanah yang tak pernah sepi dari ujian. Namun yang beliau bawa ke Surabaya bukan keluh kesah, melainkan ajakan untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Seakan ingin mengajarkan bahwa dalam kondisi apa pun, Al-Qur’an tetap menjadi pegangan.

Dua hari itu bukan sekadar pelatihan tajwid. Ia menjadi ruang muhasabah. Tentang bagaimana kita membaca. Bagaimana kita menjaga huruf. Dan bagaimana kita menghormati firman Allah dengan kesungguhan.

Di Gedung PDM Surabaya itu, bukan hanya bacaan yang diperbaiki. Hati pun ditata ulang. (Nurm)

Berita Lainnya

lazismusurabaya.org – Suasana dini hari di RS PKU Muhammadiyah Surabaya pada Sabtu (21/02/2026) terasa berbeda. Di tengah sunyinya lorong rumah sakit, relawan...

lazismusurabaya.org – Suasana shalat Subuh di Masjid Al Ikhlas Wonorejo, Kamis (19/2/2026), terasa berbeda. Puluhan jamaah sudah memadati shaf sejak dini hari...

lazismusurabaya.org – Malam pertama Ramadhan di Masjid Baitul Muttaqien, Keputih, Sukolilo, Surabaya, terasa berbeda. Sejak usai salat Isya, jamaah berdatangan dari berbagai...