Menata Niat Bersama, Menyambut Ramadhan dengan Langkah Kebaikan

Prosesi RAKERDA bersama Lazismu se-Jawa Timur 2026

Share :

Donasi Sekarang

Zakat Penghasilan

Lazismu Surabaya

Zakat penghasilan atau zakat usaha dikenakan pada penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari usaha, bisnis, atau profesi.

lazismusurabaya.org – Suasana pertemuan siang itu terasa hangat dan akrab. Para perwakilan Lazismu datang dari penjuru Jawa Timur, saling menyapa, berjabat tangan, dan berbincang ringan sebelum acara dimulai. Pertemuan itu tidak sekadar forum koordinasi, tetapi juga ruang silaturahmi yang mempertemukan semangat-semangat kebaikan dari berbagai daerah di SD Muhammadiyah 4, Jl. Pucang Anom No. 93, Surabaya., Sabtu (14/2/26)

Bukan hanya dari Surabaya, sejumlah tamu juga hadir dari luar kota. Ada perwakilan Lazismu dari Pamekasan, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Jombang, Bangkalan, hingga Sumenep. Kehadiran mereka menambah nuansa kekeluargaan, sekaligus menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman antar daerah.

Mereka datang dengan tujuan yang sama: menyambut Ramadhan dengan gerakan zakat yang lebih kuat dan lebih berdampak bagi umat.

Mengingat Kembali Hakikat Amanah

Dalam sambutannya, Bendahara PDM Surabaya, Musa Abdullah, S.Ag., mengajak seluruh peserta untuk memulai segala sesuatu dari niat. Ia tidak langsung berbicara tentang angka penghimpunan atau target program. Ia justru mengajak para amil melihat peran mereka dari sudut pandang yang lebih dalam.

Menurutnya, para amil bukan sekadar pengurus lembaga, melainkan orang-orang yang dipercaya Allah untuk mengelola amanah umat.

“Amil zakat itu seperti pegawainya Allah. Kita ditugasi mengambil zakat dari yang berhak mengeluarkan, lalu menyalurkannya kepada yang berhak menerima,” tuturnya.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa tugas yang dilakukan setiap hari, menghimpun, mencatat, hingga menyalurkan bantuan, sejatinya adalah bagian dari ibadah besar. Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan hari ini akan memberi dampak besar di masa depan. Karena itu, niat harus terus diluruskan, dan semangat kebersamaan harus dijaga.

“Semoga pertemuan seperti ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menambah kebaikan bagi kita semua,” pesannya.

Kebaikan Harus Terasa Ringan

Pesan yang berbeda disampaikan Bendahara PWM Jawa Timur, drh. H. Zainul Muslimin. Dengan gaya santai, ia mengingatkan bahwa kerja-kerja di Lazismu tidak boleh terasa sebagai beban. Menurutnya, yang dikelola dalam Lazismu adalah kebaikan. Karena itu, suasana kerja seharusnya membahagiakan, baik bagi amil maupun penerima manfaat.

“Kalau yang memberi saja merasa berat, bagaimana dengan yang menerima?” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari besar kecilnya dana yang terkumpul, tetapi dari perubahan hidup yang dirasakan mustahik.

Bagi Zainul, satu bantuan kecil yang tepat sasaran bisa jauh lebih berarti daripada program besar yang tidak jelas dampaknya.

Ia pun mengajak peserta untuk mulai mengubah cara bercerita kepada donatur. Bukan sekadar melaporkan kegiatan, tetapi menunjukkan perubahan nyata yang terjadi.

“Orang memberi bukan karena angka. Mereka memberi karena tersentuh,” katanya.

Dari Silaturahmi Menjadi Gerakan

Di sela-sela acara, suasana terasa cair. Beberapa peserta tampak berdiskusi kecil, berbagi pengalaman, atau sekadar saling bertanya tentang program di daerah masing-masing.

Pertemuan itu tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga ruang silaturahmi antar Lazismu daerah. Dari percakapan-percakapan sederhana itu, lahir semangat untuk saling belajar dan menguatkan.

Ada yang bercerita tentang program bantuan usaha, ada yang berbagi strategi penghimpunan zakat fitrah, ada pula yang bertanya tentang cara menjaga hubungan dengan donatur.

Semua percakapan itu bermuara pada satu tujuan: bagaimana kebaikan bisa terus berjalan, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga setelahnya.

Zainul mengingatkan bahwa donasi pertama hanyalah awal dari hubungan panjang dengan donatur. Hubungan itu perlu dirawat dengan komunikasi yang hangat dan laporan dampak yang nyata.

“Donasi itu bukan transaksi. Ini tentang hubungan,” katanya.

Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Sama

Menjelang akhir pertemuan, suasana tetap terasa akrab. Tidak ada kesan formal yang kaku. Yang terasa justru kebersamaan, seperti keluarga besar yang sedang menyiapkan sesuatu untuk bulan istimewa.

Ramadhan tinggal menghitung hari. Target penghimpunan memang penting, tetapi yang lebih utama adalah niat yang lurus, kerja yang terorganisasi, dan kepedulian yang nyata.

Para peserta pun pulang membawa lebih dari sekadar catatan rapat. Mereka membawa semangat baru: bahwa setiap rupiah yang dihimpun, setiap bantuan yang disalurkan, semuanya berawal dari hati yang tulus.

Dan dari hati-hati itulah, gerakan kebaikan akan terus hidup. (Nurm)

Berita Lainnya

lazismusurabaya.org – Suasana shalat Subuh di Masjid Al Ikhlas Wonorejo, Kamis (19/2/2026), terasa berbeda. Puluhan jamaah sudah memadati shaf sejak dini hari...

lazismusurabaya.org – Malam pertama Ramadhan di Masjid Baitul Muttaqien, Keputih, Sukolilo, Surabaya, terasa berbeda. Sejak usai salat Isya, jamaah berdatangan dari berbagai...

lazismusurabaya.org – Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Setiap tempat ibadah, baik mushalla maupun masjid, mulai mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menjamu para...