Kenikmatan Yang Mengelincirkan
Oleh: Nur Cholis Huda MSi
Uang itu ibarat bahan bakar bagi kehidupan. Tanpa uang seperti mobil tanpa bahan bakar. Mogok. Tidak bisa berjalan. Harus didorong.
Hidup memang butuh uang. Kita semua sudah tahu. Butuh uang untuk bayar listrik, sekolah anak, makan sehari-hari, dan keperluan lainnya. Tetapi uang bukan segala-galanya. Banyak dalam hidup ini yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kesehatan. Tidak ada toko jual sehat. Yang ada jual obat. Cinta dan kasih sayang. Tidak ada toko menjual kasih sayang.
Memang uang bukan segala-galanya. Tetapi tanpa uang bisa susah segala-galanya.
Namun setiap orang harus sadar bahwa uang itu amat licin. Bisa positif dan bisa negatif. Bisa membuat pemiliknya menaiki kendaraan kehidupan dengan lancar karena oli kendaraannya cukup dan mesin berjalan stabil. Namun jika oli tidak berada pada tempatnya, tercecer tidak karuan, maka oli menjadi pelicin yang membuat banyak orang terpeleset jatuh. Demikian tamsil tentang uang.
Kalau saja setiap keinginan orang untuk punya banyak harta itu dipenuhi Allah, maka orang akan mudah kehilangan keseimbangan. Oli akan mudah berceceran di mana-mana yang membuat pemiliknya sendiri akan terpelanting jatuh. Al Quran mengingatkan dengan jelas:
“Dan Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambanya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi ini. Tetapi dia menurunkan apa yang dikehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya dia terhadap hamba-hambanya Maha Mengetahui lagi maha melihat. Surat as-syura ayat 27.
Allah telah memberi rezeki kepada kita dengan ukuran terbaik dan teraman.
Kekayaan, kekuasaan, kesuksesan mudah membuat orang lupa diri. Lupa bahwa semua kesuksesan itu karena pemberian Allah. Mudah sekali orang merasa keberhasilan itu sepenuhnya hasil jerih payahnya sendiri. Padahal mudah sekali bagi Allah membalikkan keadaan. Menjatuhkan dia dengan kejatuhan yang menyakitkan.
Betapa banyak orang yang ketika hidupnya masih sederhana dia tekun beribadah, hidup hangat berdampingan dengan tetangga. Perhatian penuh pada keluarga. Namun setelah meraih banyak sukses, terutama sukses harta, maka sikapnya berubah. Dia seakan-akan bisa membeli apa saja, Bahkan membeli siapa saja dengan uangnya.
Betapa banyak orang yang setelah menjadi kaya muncul selera yang bermacam-macam. Istrinya kadang menyesal setelah menjadi kaya. Hidupnya jauh lebih tentram ketika masih dalam kondisi ekonomi sederhana. Kini setelah kekayaan melimpah, dirinya seakan dilupakan begitu saja oleh suami. Andil dalam penderitaan bersama pada masa lalu ketika hidup masih susah seperti tidak pernah terjadi. Diabaikan. Tidak lagi dihargai.
Demikian juga sang yonya. Ada juga kehilangan keseimbangan setelah rezeki melimpah. Ketika masih hidup sederhana sikapnya semanak kepada orang lain. Namun ketika hidupnya berubah, berubah pula sikapnya. Dia hanya mau bergaul dengan sesama sosialita. Sesama nyonya besar. Orang-orang yang dulu menjadi kawan bergaul kini dianggap tidak ada, tidak lagi satu level. Dia merasa berada di level yang lebih tinggi.
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya berkecukupan.” Surat Al Alaq ayat 6-7.
Rezeki yang diberikan Allah kepada kita itulah ukuran yang terbaik. Maka menerima dengan rasa syukur adalah jalan kebahagiaan. Allah Maha Tahu ukuran yang terbaik bagi kita. Tentu kita boleh terus berusaha mencapai kesuksesan dalam bidang apapun, termasuk dalam soal kekayaan. Namun apa yang menjadi milik kita itulah ukuran terbaik saat itu. Kita selalu diingatkan dalam banyak firman Allah bahwa kekayaan dan juga anak itu sebagai ujian kehidupan. Hal itu agar kita tidak lupa diri.
“Sesungguhnya harta kamu dan anak-anak kamu adalah ujian.” Surat at-taghabun ayat 15
Harta dan anak. Itulah dua kenikmatan yang didalamnya bukan hanya berisi kesenangan tetapi juga ujian. Banyak orang tergelincir karena dua kenikmatan itu. Kecintaan kepada anak secara berlebihan bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Tidak bisa berpikir objektif.
Juga Harta membuat banyak orang terpeleset jatuh. Banyak orang yang ingin terus menambah, menambah, dan menambah jumlah hartanya. Menabrak sana menabrak sini. Para koruptor bukan orang-orang yang kekurangan. Malah Banyak yang kelebihan dari kebutuhannya. Tetapi nafsu ingin menambah lagi, menambah lagi yang berlebihan akhirnya menjadikan setiap peluang dan kesempatan itu untuk bisa mengumpulkan harta.
*Keseimbangan Hidup*
Kalau saja setiap keinginan orang menambah harta itu dipenuhi, maka kehidupan ini tidak bisa berjalan dengan normal. Pasti akan hilang keseimbangan. Allah memberi kekayaan yang berbeda antara satu orang dengan orang lain adalah untuk menjaga keseimbangan hidup manusia itu sendiri.
“Apakah mereka yang membagi-bagi Rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka di dunia dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.” Surat az-zukhruf ayat 32
Rezeki orang tidak sama agar dalam kehidupan di dunia ini terjadi keseimbangan. Jika semua orang kaya raya, semua merasa jadi bos, maka siapa yang bersedia menjadi sopir? Jika semua orang adalah pemilik perusahaan, siapakah yang bersedia menjadi juru ketik, cleaning service, pekerja taman dan sebagainya. Hidup menjadi tidak seimbang. Tidak ada gerakan saling tolong-menolong. Sebaliknya yang muncul mungkin hanya saling bersaing. Allah itu maha bijaksana dan maha tahu permasalahan (hakimun Alim).
Ketika kita mengalami kemajuan di bidang rezeki, maka seharusnya orang semakin sering merenungi tentang keadaannya. Melakukan Muhasabah. Mengapa Tuhan memberi kemudahan rezeki kepada saya? Apakah jalan yang saya tempuh ini sudah benar? Apakah saya ini sedang dibombong, dinina bobokkan Tuhan sampai lupa diri? Inilah dalam Islam disebut istidraj.
Dalam Al Quran memang terdapat ayat yang menyatakan bahwa orang-orang yang sukses dunia itu sebenarnya sedang dibombong, dibiarkan Tuhan untuk terus naik sehingga ketika nanti terjungkal, maka rasa sakitnya lebih terasa karena jatuhnya dari tempat yang tinggi. Kesuksesan itu adalah bentuk lain dari penangguhan balasan.
Ibarat layang-layang, benangnya terus diulur dan layang-layang itu terus meningkat tinggi mengikuti arah dan hembusan angin. Nanti saatnya layang-layang itu akan jatuh ketika angin tidak lagi berhembus. Mari perhatikan firman Allah dalam Alquran berikut ini.
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka kami akan tarik mereka dengan cara berangsur-angsur dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan aku menangguhkan buat mereka. Sungguh rencanaku amat Teguh.” Surat al-a’raf ayat 182 183
Jika kita ingin hidup tentram dan bahagia maka rumusnya sederhana: Nikmati apa yang kita punya. Bukan mencari-cari yang kita inginkan yang tidak ada pada kita. Nikmati bau teh atau kopi hangat ketika pagi hari kita minum teh atau kopi. Nikmati sinar matahari yang cerah dengan udara yang segar. Tatap wajah anak-anak kita yang ceria dan gembira. Bahagia itu sesungguhnya sederhana dan murah.
Jangan membandingkan dengan keadaan orang lain. Mereka belum tentu seindah yang kita bayangkan. Rumput tetangga sesungguhnya tidak lebih hijau daripada rumput halaman rumah kita sendiri.
Urip iku sawang sinawang Ana wong numpak mobil Mercy karo mberebes mili Ana wong mlaku (ora duwe tumpakan) tapi terus gemuyu (Ati ayem).*



