Donatur dan muzakky yang dimuliakan Alloh. Kita pasti mengenal status dan gelar pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang berjasa bagi nilai-nilai kemanusiaan. Maka, wajar tentu bila setiap orang berharap dirinya bisa menyandang gelar pahlawan. Ya, pahlawan adalah mereka yang didefinisikan telah berjasa bagi banyak orang, komunitas, organisasi, bangsa atau negara. Dalam makna terbatas, orang sering menghubungkan pahlawan dengan mereka yang telah berjuang dan berkorban jiwa dan raga tanpa pamrih demi membela dan membebaskan tanah air dari penjajah atau kolonialis yang telah menjarah negerinya. Dalam perspektif ini, para pejuang yang berkorban demi tegaknya Islam adalah para syahid atau pahlawan. Maka, kita mengenal pahlawan perang Badar, perang Uhud, perang Khondak, perang Salib, dan pahlawan peperangan lainnya.
Di negeri ini, kita mengenal pahlawan Diponegoro , Imam Bonjol, Cuk Nya’ Din, Kartini, Hasanuddin, Pattimura, Sudirman, dan beratus, beribu, bahkan berjuta lainnya yang telah gugur di medan laga, berjuang demi meraih atau mempertahankan kemerdekaan.
Pahlawan adalah para pembebas. Pembebas dari beragam kondisi krisis. Kebodohan, kelaparan, kemiskinan, korban perang, bencana alam, kerusakan lingkungan adalah lahan genting yang menawarkan komitmen kepahlawanan. Siapapun yang telah memberikan kontribusi positif, mengentas problematik kemanusiaan itu adalah pahlawan.
Setiap mukmin, khususnya para muzakky, harus apresiatif, berempati dan peduli atas beragam problem dan amanat kemanusiaan. Sebagian dari harta mereka harus disalurkan dalam bentuk zakat, infak dan sodaqoh demi mengantisipasi problematik kemanusiaan apa pun, khususnya kepada para mustahiq seperti yang disebutkan dalam Alquran Surat Attaubah 60.
Lebih dari seratus juta umat Islam di negeri ini dalam kondisi fakir dan miskin. Mereka “kalah” atau “korban” pergulatan hidup. Korban gurita materialisme, kapitalisme, dan hedonisme. Mereka adalah para buruh pabrik, buruh tani, nelayan, pedagang kaki lima, tukang becak, guru, atau para korban perang, korban, bencana alam, atau korban krisis kemanusiaan lainnya.
Jika Anda seorang donatur atau muzakky yang berkenan menyalurkan sebagian harta demi mengentas nasib para mustahiq, saudara seiman dari ketidakberdayaan, Anda sejatinya adalah pahlawan. Meski Anda tentu tidak pernah berharap gelar prestisius itu. Alloh pasti memuliakan Anda di dunia ini, apalagi di akhirat nanti. Anda pasti lebih mulia dari pejabat, orang kaya, atau pengusaha bakhil, yang lebih suka menyembunyikan harta tanpa memiliki empati atau kepedulian atas nasib atau derita berjuta mustahiq itu. (Abdul Hakim, Pimred).



