lazismusurabaya.org — Tumpukan wadah anyaman bambu berbentuk kotak kokoh memenuhi ruang utama gedung Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya. Dari balik anyaman besek tersebut, menyeruak aroma khas daun jati segar yang membungkus rapat ratusan paket daging kurban siap edar. Distribusi masif ini menjadi penanda pergeseran nyata bagaimana ritual ibadah tahunan dapat berjalan beriringan dengan pemulihan ekosistem kota.
“Kami di Lazismu Surabaya sadar betul bahwa ibadah qurban adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian sosial kepada sesama. Melalui gerakan Green Kurban ini, kami ingin memastikan kebaikan kurban dirasakan utuh, baik oleh penerima manfaat maupun oleh alam,” ujar Ketua Lazismu Surabaya, Faisal Haqqi, S.E.
Faisal menegaskan, pengalihan kemasan konvensional ke media organik merupakan komitmen jangka panjang demi meminimalisir jejak karbon aktivitas keagamaan. Lazismu Surabaya tidak ingin momen kebahagiaan berbagi daging kurban justru menyisakan kesedihan bagi lingkungan berupa tumpukan sampah plastik yang sulit terurai. Keputusan beralih ke hulu ini diambil demi memotong rantai pasokan sampah plastik kresek hitam maupun putih secara instan.

Sekira 800an paket daging ramah lingkungan yang kini mulai menyebar ke berbagai titik di Surabaya tersebut merupakan hasil riil dari pemotongan hewan kurban yang berlangsung di MI Muhammadiyah 23, Jalan Buntaran, Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, dua hari sebelum evaluasi dampak gerakan ini dilakukan. Lokasi halaman sekolah yang sempat riuh oleh prosesi penyembelihan kini telah bersih, berganti dengan dampak kebersihan lingkungan jangka panjang yang dirasakan langsung oleh warga penerima manfaat.
Langkah taktis meminimalisir plastik sekali pakai ini merespons langsung kedaruratan ekologis nasional. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI menunjukkan potret mengkhawatirkan dengan angka timbulan sampah plastik yang terus merangkak naik hingga menyentuh kisaran 18 persen dari total keseluruhan sampah domestik. Lonjakan ini biasanya memuncak drastis selama masa Idul Adha.
Satu hewan kurban rata-rata menghasilkan 50 hingga 100 paket daging. Bayangkan jika jutaan hewan disembelih serentak di seluruh penjuru negeri menggunakan kantong kresek sekali pakai, Kementerian LHK mencatat potensi timbulan sampah plastik baru bisa meledak hingga ratusan bahkan ribuan ton hanya dalam waktu satu dua hari. Sampah-sampah inilah yang kemudian menyumbat saluran air kota, meracuni struktur tanah, dan berakhir merusak ekosistem laut selama ratusan tahun ke depan.
Pemilihan komponen pembungkus oleh Lazismu Surabaya didasarkan pada pertimbangan sains teknologi pangan yang matang, bukan sekadar mengejar estetika tradisional. Daun jati (Tectona grandis) dipilih karena menyimpan kekayaan senyawa aktif alami seperti tanin, saponin, dan flavonoid. Zat alami ini memiliki karakteristik antimikroba sekaligus antioksidan kuat.
Pertumbuhan bakteri pembusuk pada daging mentah dapat dihambat secara optimal oleh senyawa aktif tersebut. Kelembapan alami daging terjaga dengan baik, menjaga kesegaran komponen pangan jauh lebih lama jika dikomparasikan dengan media kantong plastik yang kedap udara dan memicu kondensasi bakteri. Karakteristik wadah besek bambu yang mudah terurai kembali ke alam (biodegradable) melengkapi rantai distribusi kurban yang sepenuhnya higienis, syar’i, sekaligus lestari.(Nurm/Ysf)



