lazismusurabaya.org – Gerakan filantropi di lingkungan perkotaan dituntut untuk terus memperbarui strategi agar tidak kehilangan relevansi di mata generasi kekinian. Di tengah gempuran tren digital yang serba cepat, Lazismu Kota Surabaya mengambil langkah responsif dengan berupaya mentransformasikan pendekatan konvensional menjadi gerakan yang lebih segar dan adaptif. Keberhasilan menanamkan kepekaan sosial pada Gen Z dan Gen Alpha kini dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi keberlangsungan kepedulian umat.
“Core-nya Lazis itu kan menolong sesama. Ah, itu coba kumpulkan film-film inspiratif yang kaitannya dengan menolong, kaitannya dengan memberikan manfaat,” ungkap Wakil Ketua PDM Kota Surabaya, Muhamad Jemadi, S.Ag., M.A.
Tokoh pengkaderan yang akrab disapa Pak Je ini menekankan bahwa institusi zakat, infak, dan sedekah tidak boleh lagi berjarak dengan dunia anak muda. Lazismu Surabaya didorong untuk lebih agresif menembus basis-basis pendidikan formal, mulai dari tingkat paling dasar hingga menengah. Pendekatan teatrikal seperti aktivitas mendongeng yang sarat makna kebaikan dirancang untuk menyasar anak-anak usia TK dan SD, sementara pemutaran film dokumenter serta sinema perjuangan dialokasikan sebagai pemantik diskusi bagi pelajar SMP.

Selasar Pusat Dakwah Muhammadiyah Kota Surabaya di Jalan Wuni Nomor 9, Ketabang, Genteng, menjadi saksi buletin lahirnya gagasan-gagasan segar tersebut. Pada Selasa malam, 9 Juni 2026, tepat selepas menunaikan ibadah maghrib, suasana ramah langsung terasa saat Pak Je menyambut kedatangan jurnalis. Balutan Batik khas Muhammadiyah dengan dominasi warna merah serta kopyah yang dikenakannya malam itu memancarkan karisma yang kuat, memunculkan impresi mendalam yang mengingatkan pada wibawa tokoh besar Muhammadiyah era 1990-an, K.H. Ahmad Azhar Basyir.
Duduk santai setelah menyelesaikan perannya sebagai narasumber dalam program mini podcast monolog yang digelar oleh Lazismu Surabaya, Pak Je memaparkan pemikiran-pemikirannya dengan sangat lugas. Kehadirannya bukan sekadar sebagai figur struktural, melainkan representasi dari sosok mentor yang memahami betul psikologi massa bawah. Dirinya meyakini, sebelum meluncurkan berbagai produk visual atau media edukasi, Lazismu wajib melakukan riset mendalam berbasis data mengenai preferensi dan kesenangan riil anak muda zaman sekarang.
Melalui kombinasi antara kepekaan lembaga filantropi dan keteladanan figur yang bersahaja, tantangan zaman ini coba dijawab dengan optimisme tinggi. Transformasi dakwah bil-qalam dan visual yang digagas bersama Lazismu Surabaya diharapkan mampu menjadi magnet baru. Dengan demikian, kepedulian terhadap sesama tidak lagi dipandang sebagai kewajiban normatif yang kaku, melainkan telah bergeser menjadi gaya hidup yang membanggakan di kalangan generasi masa depan.(Ysf)



