lazismusurabaya.org – Gagasan tentang transformasi gerakan filantropi menjadi sorotan utama dalam sharing session bersama Hanum Salsabiela Rais pada Rapat Kerja (Raker) Lazismu Surabaya Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan setelah agenda pembukaan Raker pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di Hotel Tasneem Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, Hanum menekankan bahwa Lazismu telah berada pada fase kematangan organisasi. Selama 18 tahun berkiprah, Lazismu dinilai berhasil menjadi pelopor di antara lembaga zakat dan filantropi, sekaligus memperoleh tingkat kepercayaan publik yang kuat berkat dampak sosial yang dihadirkan secara konsisten.
“Lazismu itu kuat karena kepercayaan, dampak, dan kemampuannya dalam memecahkan masalah,” ujar Hanum, menegaskan fondasi nilai yang selama ini menopang gerakan Lazismu.
Hijrah Misi Lazismu: Dari Pengelolaan Donasi Menuju Pemberdayaan Sosial
Hanum mengajak Lazismu Surabaya untuk melakukan hijrah misi, yakni pergeseran strategis dari fokus pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah menuju pemberdayaan sosial yang berkelanjutan. Menurutnya, tantangan sosial yang kian kompleks menuntut lembaga filantropi untuk bergerak lebih jauh dari pendekatan karitatif semata.
“Sudah saatnya Lazismu bergerak melampaui pengelolaan donasi, menuju pemberdayaan sosial yang benar-benar berkelanjutan,” ungkapnya.
Hijrah tersebut dipandang sebagai bagian dari perjuangan moral yang sejalan dengan semangat reformis Muhammadiyah, yakni menghadirkan pembaruan sosial yang berpijak pada nilai keadilan, keberpihakan, dan kebermanfaatan jangka panjang bagi masyarakat.
Membaca Ketimpangan Sosial sebagai Tantangan Bersama
Dalam pemaparannya, Hanum juga menyoroti kondisi sosial-ekonomi yang menjadi tantangan utama program Lazismu ke depan. Ketimpangan sosial yang semakin tajam, di mana kelompok masyarakat tertentu kian diuntungkan sementara kelompok rentan kehilangan kendali atas kehidupannya, dinilai memerlukan respons yang lebih terstruktur dari lembaga filantropi dan masyarakat sipil.
Tekanan ekonomi, inflasi, serta persoalan upah dan ketenagakerjaan disebut turut memperparah situasi tersebut. Oleh karena itu, Hanum menegaskan pentingnya Lazismu merancang program yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran dana, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan dan terukur.
“Program Lazismu harus diarahkan pada dampak sosial yang jelas, terukur, dan mampu memperkuat ketahanan komunitas,” tegasnya.
Integritas dan Dampak sebagai Ukuran Keberhasilan
Hanum menekankan bahwa integritas harus tetap menjadi pijakan utama dalam setiap langkah Lazismu. Kepercayaan publik yang telah dibangun selama ini merupakan modal sosial yang sangat berharga dan harus dijaga melalui tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Keberhasilan lembaga filantropi, menurutnya, tidak cukup diukur dari besarnya dana yang dikelola, melainkan dari sejauh mana program-program tersebut mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat serta menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.
Meneguhkan Arah Program Lazismu Surabaya 2026
Sharing session bersama Hanum menjadi bagian penting dalam rangkaian Raker Lazismu Surabaya 2026. Gagasan-gagasan yang disampaikan diharapkan dapat menjadi pijakan reflektif bagi pengelola Lazismu dalam menata ulang arah program agar lebih adaptif terhadap tantangan zaman, tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga filantropi berbasis nilai keislaman.
Menutup sesi berbagi, Hanum menyampaikan pesan reflektif yang menguatkan semangat gerakan Lazismu.
“Jika kamu ingin hidup yang diberkati, jangan pernah lelah untuk memberi,” tuturnya.
Raker Lazismu Surabaya 2026 pun menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen Lazismu dalam menghadirkan inovasi sosial yang terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan. Dengan pijakan nilai, integritas, serta keberanian melakukan hijrah misi, Lazismu Surabaya optimistis dapat terus melangkah sebagai lembaga yang memberi solusi nyata bagi umat dan masyarakat. (Ghina)



