Lazismusurabaya.org
Setan Tertawa Ketika Kita Mengeluh
Oleh: Ustadz Nurcholis Huda MSI (Penasihat PWM Jawa Timur)
Manusia itu gampang sekali mengeluh. Ditimpa sedikit saja kesulitan, dia sudah mengeluh berkepanjangan. Seakan-akan hidupnya penuh dengan penderitaan. Seperti tidak ada orang bernasib malang seberat dia. Dia lupa bawa sampai detik ketika dia mengeluh, Sebenarnya dia sedang dilimpahi karunia Allah yang tidak terhitung.
Contoh, ketika kita bangun tidur, tanpa ada alat kesehatan menempel di badan kita. Tidak ada alat pernapasan semisal bantuan oksigen. Tidak ada alat pacu jantung. Tidak ada selang apapun yang menempel dalam tubuh kita. Padahal ribuan orang lain tergolek tidak berdaya di rumah sakit dengan macam-macam selang di tubuhnya. Sudah begitu, bayar lagi.
Kita tidak sadar bahwa mengeluh itu adalah proyek garapan setan yang terdepan. Setan tidak ingin kita bergembira. Harus mengeluh. Tidak boleh bersyukur, tidak boleh optimistis tidak boleh berpikir positif. Inilah proyek utama setan.
Itulah janji sekaligus sesumbar setan di hadapan Allah. Bahwa setan akan merintangi dengan segala daya dan kekuatan agar orang sulit bersyukur dan jauh lebih mudah mengeluh. Inilah sumber setan itu:
“Pasti akan aku halangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri mereka sehingga tidak banyak engkau jumpai orang-orang yang bersyukur.” Surat Al A’raf ayat 17.
Demikian yakin setan bisa menghalangi manusia untuk bersyukur. Memang masih ada yang bersyukur tetapi jumlahnya tidak banyak. Maka setiap kali ada orang mengeluh, setan tertawa senang karena hal itu dianggap keberhasilannya menghalangi manusia. Seperti sesumbar setan kepada Allah bahwa pasti tidak akan banyak yang bersyukur.
Mengapa setan menghalangi bersyukur dan mendorong manusia agar mengeluh? Karena bersyukur itu sumber kebaikan dan mengeluh itu sumber keburukan. Orang bersyukur itu hidupnya tentram dan dadanya lapang. Dalam keadaan gembira orang bisa berpikir jernih. Maka dia bisa membuat perencanaan hidup secara cermat. Bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik. Orang yang gembira dapat memandang hidup dengan rasa optimistis.
Sebaliknya orang yang mengeluh memandang hidup ini tanpak buram. Dunia menjadi terasa sempit. Dia menjadi pesimistis menghadapi persoalan. Mengeluh juga bisa membuat manusia gampang iri hati. “Mengapa nasib saya tidak sebaik kawan saya? Adakah orang lain yang sengaja menjegal karir saya? Mengapa saya merasa atasan kurang memperhatikan Saya? Bahkan kadang memandang dengan curiga?
Manusia memang ada pembawaan mudah sambatan. Ada kesulitan sedikit saja keluh kesahnya sudah berkepanjangan. Allah berfirman: “Manusia itu punya naluri mudah mengeluh. Apabila ditimpa sedikit kesulitan dia sudah sambatan. Namun bila mendapat kesenangan dia cenderung kikir.” Surat al-ma’arij ayat 19.
Orang cenderung melihat orang lain lebih senang dan tentram daripada dirinya. Berikut ini contoh dialog dari orang-orang yang melihat orang lain lebih beruntung daripada dirinya.
Seorang penumpang angkot berkali-kali melihat jam tangannya. Tampaknya dia takut terlambat. Lalu dia berkata kepada sopir angkot: “Enak ya jadi sopir angkot. Menjadi majikan diri sendiri. Bisa mengatur sendiri jam kerja.”
Sopir angkot menjawab: “Siapa bilang jadi sopir angkot enak. Kami diburu setoran. Apalagi sekarang kredit sepeda motor mudah. Semua punya sepeda motor. Angkot makin sepi. Untuk setoran dan beli bahan bakar saja sering tidak cukup. Susah, Mas. Hidup makin susah.”
“Yang enak itu sopir pribadi. Tidak perlu kejar setoran. Setiap bulan pasti dapat bayaran,” kata sopir angkot. Benarkah sopir pribadi itu enak?
“Jadi sopir pribadi itu susah. Kerja terus, tidak kenal libur. Pada hari libur harus mengantarkan Bos rekreasi bersama keluarganya. Sementara keluarga sendiri yang ingin rekreasi tidak pernah kesampaian. Susah. Kerja terus tak kenal libur.” lalu Siapa yang enak Mas sopir?
“Yang enak itu menjadi pegawai negeri. Punya gaji tetap. Jika tidak masuk gaji tetap utuh. Tidak dipotong seperti buruh pabrik. Nanti di hari tua dapat pensiun. Kesehatan ada jaminan BPJS. Pegawai negeri itu hidupnya tenang. Semua sudah dijamin. Tidak perlu ngoyo.”
Coba kita tanya pegawai negeri. Apakah benar hidup mereka serba enak seperti bayangan orang lain? Mereka ternyata juga punya sederet keluhan. Mulai gaji kecil sehingga sering hutang ke koperasi. Yang rajin maupun yang tidak rajin diperlakukan sama. Kenaikan pangkat sama-sama menunggu empat tahun. Kenaikan gaji jauh dari memadahi. Pegawai negeri itu hanya kelihatan enak dari luar.
Mengapa orang lebih mudah melihat Rumput Tetangga Lebih Hijau? Mengapa lebih mudah menganggap orang lain lebih beruntung karena mereka melihat dirinya dari sisi kurangnya. Sedang melihat orang lain dari sisi enaknya.
Penumpang itu melihat Sopir dari sisi enaknya sehingga mengira jadi sopir angkot lebih enak daripada dirinya. Sopir angkot melihat sopir pribadi dari sisi enaknya. Sedang dirinya dilihat dari sisi susahnya. Yaitu cari setoran dan makin sepi penumpang. Padahal kalau bisa melihat secara adil maka hasilnya akan jauh berbeda.
Setan terus-menerus membisikkan hidup pesimistis. Sedangkan Islam selalu mendorong hidup optimistis. Dengan sikap pesimistis maka orang mudah terperosok dalam perbuatan keji dan tidak terpuji. Sedangkan sikap optimistis membuat orang melihat hidup ini mudah dan menggembirakan. Maka orang melihat karunia Allah melimpah.
“Setan itu menjanjikan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan. Sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia. Dan Allah Maha luas ke dunianya lagi maha mengetahui.” Surat Al-baqarah ayat 628.



