Lazismusurabaya.org-Narkoba mengakibatkan ketergantungan fisik dan psikis, depresi yang hebat, dan rusaknya organ-organ tubuh seperti otak, Jantung, ginjal, hati, bahkan mengakibatkan kematian.
Hal itu disampaikan Ketua Divisi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Ustadz H Soedjono, S.Pd, M.Pd dalam Training Of Fasilitator LDK PWM Jawa Timur di Aula PDM Lamongan, Sabtu (24/2/2024).
Abah Djon, biasa dia dipanggil menyampaikan bahwa orang tua dan guru memiliki peran utama dalam upaya pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan Peredaran gelap narkoba.
“Narkoba bisa menarik masyarakat karena adanya tuntutan hidup, Lifestyle, kebebasan, kemerosotan akidah. Kita bisa melihat fakta yang memperhatinkan bahwa semakin banyak yang memulai perkenalannya dengan narkoba pada usia yang semakin muda kurang lebih 10 tahun, penyalahgunaan narkoba umumnya dimulai dengan kebiasaan menghisap rokok, penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik penyebab nomor 2 penularan HIV dan AIDS,” katanya.
Mengapa saat ini remaja mudah menyalahgunakan narkoba? Tanya dia kepada peserta, karena mudah dipengaruhi Kawan, Rasa ingin tahu yang tinggi, solidaritas kelompok, ingin tampil menonjol, keinginan memberontak, menghilangkan rasa bosan dan stress.
Menurut dia, dampak sosial menggunakan narkoba. “Gejala dini pengguna narkoba ialah susah untuk diajak bicara, suka menyendiri atau menjauhkan diri, sulit untuk terlibat dalam aktivitas, sering tidak menepati waktu, sering mudah tersinggung, suka bicara berlebihan, suka kelihatan minder atau malu-malu, selalu tampak tidak tenang atau gelisah, selalu curiga tanpa alasan, yang disebut dengan 7B yakni bingung, bohong, bengong, bolos, bego, bolot, barang-barang hilang,” terangnya.
“Ciri-ciri penyalahgunaan narkoba ialah perubahan fisik dan lingkungan sehari-hari, jalan sempoyongan, bicara pelog, tanpa terbatuk-batuk, kamar tidak mau diperiksa atau selalu dikunci, sering didatangi atau menerima telepon orang-orang yang tidak dikenal, ditemukan obat-obatan, kertas timah, jarum suntik, korek api di kamar atau di dalam tas, terdapat tanda-tanda suntikan atau sayatan, sering kehilangan uang atau barang di rumah dan mengabaikan kebersihan diri,” ujar yang saat ini diamanahi Kepala Sekolah SDN Putat Gede I/49 itu.
Perubahan psikologis, lanjutnya, malas belajar, mudah tersinggung, sulit berkomunikasi, menghindari kontak mata langsung, bohong atau meliputi keadaan, kurang disiplin, bohong atau linglung, suka membolos, mengabaikan kegiatan ibadah, menarik diri dari aktivitas bersama keluarga, sering menyendiri atau bersembunyi di kamar mandi, di gudang atau tempat-tempat tertutup.
“Penyebab utama menggunakan narkoba bisa dari faktor individu yakni coba-coba atau iseng atau penasaran, senang-senang, mengikuti tren, agar diterima dalam suatu grup, pelarian dari suatu masalah, pengertian yang salah bahwa sekali tidak masalah, tidak berani atau tidak dapat berkata tidak terhadap ajakan atau iming-iming,” kata dia.
“Orang menggunakan narkoba karena faktor lingkungan yakni kesempatan atau situasi seperti diskotik tempat hiburan, rekreasi, pesta, solidaritas kelompok sebaya, ajakan, rayuan, atau iming-iming, lingkungan yang membiarkan maraknya penggunaan penjualan bebas obat-obatan atau narkoba, lemahnya dagum, bisnis yang terorganisir ditutup-tutupi oleh masyarakat sendiri,” jelasnya.
Masih kata dia, orang menggunakan narkoba karena faktor zat dan ketersediaan narkoba secara psikologis tidak dapat hidup normal tanpa zat narkoba dalam tubuh, secara fisik kesakitan atau tidak nyaman bila dalam tubuhnya tidak ada narkoba secara psikis merasa nikmat bila tubuhnya telah terisi zat yang terkandung dalam narkoba, zat-zat narkoba memberi rasa nikmat, mendorong pemakaian berulang dengan bertambahnya dosis.
“Peran dan tanggung jawab orang tua yakni orang tua menjadi panutan, orang tua menjadi teman diskusi, orang tua menjadi tempat bertanya, mampu membuat aturan secara konsisten kontinyu dan konsekuen mampu mengembangkan tradisi keluarga dan nilai-nilai agama, orang tua perlu menggali potensi anak untuk dikembangkan melalui berbagai macam kegiatan, orang tua dapat berperan sebagai pemimpin bagi anak, orang tua perlu mengontrol kegiatan anak, orang tua perlu mengenal teman-teman anak, orang tua perlu menumbuhkan kesadaran anak, melibatkan anak untuk mewujudkan cita-cita keluarga,” tandasnya. (Habibie)



